[MelawanLupa] Fahri Hamzah Pernah Sebut Jokowi Sinting Karena Tetapkan Hari Santri

VNewsIndonesia | Bangga rasanya akhirnya santri diakui dan dibanggakan. Ya, dua tahun yang lalu, pada tanggal 22 Oktober 2015, Jokowi resmi mengeluarkan Keppres nomor 22 tahun 2015 bahwa pada tanggal 22 Oktober ditetapkan Hari Santri Nasional.

Dengan adanya Keppres tersebut secara langsung memberi pengakuan bahwa ulama dan santri pondok pesantren mempunyai andil besar terhadap negara, sebab karena perjuangan merekalah Indonesia bisa lepas dari penjajahan.

Saya masih ingat bagaimana keputusan Jokowi menetapkan Hari Santri ini kemudian dianggap Sinting oleh Fahri Hamzah. Saat itu Fahri menulis di Twitter melalui akunnya @Fahrihamzah:

“Jokowi janji 1 Muharram hari Santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!!!”.

Aneh memang kebajikan seperti ini dianggap Fahri hal sinting. Tapi saat FPI melakukan aksi demo berjilid-jilid dia sangat memuji-muji dan bahkan ikut dalam barisan terdepan. Disebutnya itu adalah Aksi Bela Islam. Tapi saat Jokowi meresmikan Hari Santri, ia mencomooh dan menyebutnya “Sinting”.

Nah, bisa kalian nilai sendiri kan, siapa yang sesungguhnya membela Islam dan yang hanya politik pencitraan?

Dengan ditetapkannya Hari Santri, seluruh Indonesia bisa mengulang sejarah: dulu para santri Mbah Hasyim Asy’arie lah yang memelopori perang melawan sekutu, dan puncaknya tanggal 10 November terjadi letusan perang di Surabaya sampai diperingati ‘Hari Pahlawan’.

Begitu besarnya jasa santri sehingga memang layak diabadikan. Ingat ya, santri yang dimaksud adalah para santri yang berjuang harta dan nyawa demi keutuhan NKRI, bukan orang-orang berjubah teriak-teriak NKRI, gelar sholat Jumat dijalanan tapi malah anti Pancasila dan ingin mendirikan negara khilafah. Bah, yang ini sih bukan santri!!!

Saya masih heran ketika masih saja ada orang yang menganggap Jokowi benci ulama atau menistakan ulama dsb, hanya gara-gara kasus Rizieq. Kunjungannya ke pesantren setiap kali ke daerah sama sekali tak terlihat dimata haters nya.

Bahkan ketika ia menetapkan Hari Santri masih saja ada yang beranggapan itu hanya pencitraan. Rasanya tidak berlebihan kalau saya bilang baru era Jokowi lah keberadaan pesantren sangat diakui dan diapresiasi.

Saat saya masih jadi santri, terasa sekali sekolah berbasis pendidikan Islam khusunya pesantren dimarjinalkan. Santri seolah dianggap kolot, nggak keren, nggak gaul, dsb.

Apalagi era tahun 90 an hingga 2000 awal. Sehari-hari para santri wajib pakai jilbab, tapi saat pengambilan foto untuk ijazah wajib dilepas. Jadi foto ijazah saya, baik Mts (setingkat SMP) dan MA (setingkat SMA) semuanya tidak ada yang pakai jilbab.

Ketika saya tanya alasannya pada guru, jawaban aneh dan janggal sangat mengejutkan. Katanya biar ketahuan cacat atau nggak, punya kuping atau nggak. Belakangan saya baru mengetahui aturan foto ijazah harus lepas jilbab saat itu hanya untuk melemahkan pesantren, bahkan nyaris tidak mengakuinya.

Aturan tidak boleh berjilbab juga terjadi di kantor-kantor pemerintahan, bank, dan lembaga-lembaga lainnya.

Ada kejadian lucu ketika kami harus berfoto tanpa jilbab untuk keperluan ijazah. Karena kita tidak terbiasa menggerai rambut depan umum, apalagi saat fotografernya laki-laki dan dilakukan di depan kelas, maka semuanya jadi canggung.

Alhasil foto ijazah kami jadi aneh: kepala agak tengkleng (miring) ke kiri/kanan, wajah tegang, senyum yang dipaksakan, model rambut yang aneh dan tidak rapi (karena tidak pernah dipotong sesuai model kekinian), dan beragam wajah lain yang aneh.

Beruntung era-era berikutnya aturan harus lepas jilbab di ijazah sudah ditiadakan. Lembaga pemerintah dan bank juga membebaskan pegawainya mau pakai jilbab atau tidak.

Dan yang lebih menggembirakan saat ini trend pendidikan Islam sudah mulai menjamur. Banyak sekolah umum meniru konsep pesantren dengan membangun asrama untuk siswa-siswanya.

Semoga dengan adanya Hari Santri ini tak hanya untuk mengenang jasa para santri tapi juga memajukan lembaga pesantren, sehingga lulusannya tidak lagi dianggap kolot, tapi mampu berkiprah di berbagai bidang untuk menjadikan Indonesia lebih maju dan berperadaban.

Penulis

Anisatul Fadhilah (Geotimes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *