Nostalgia dari Cerita Masa Kecilnya Jokowi

VNewsIndonesia | Selalu ada kisah menarik di balik kesuksesan seseorang, begitu juga yang dialami Joko Widodo (Jokowi) sebelum dia memimpin negeri ini. Hal itu diceritakan Sutarti (65) yang sering memoncengnya dengan sepeda onthel 53 tahun lalu.

Sutarti adalah Kepala Sekolah Kelompok Bermain di Nusukan, Solo. Ia masih ingat betul tentang rengekan bocah laki-laki dengan postur kurus yang sering menangis meminta di antar ke rumah pamannya seusai pulang sekolah. Kala itu, ia sama sekali tak menyangka bocah yang diboncengnya sekarang jadi orang nomor satu di negeri ini.

“Saya nggumun (heran-red) waktu Pak Jokowi jadi Wali Kota Solo. Apa nanti bisa bicara? Karena waktu kecil anaknya pendiam dan suka menangis kalau enggak diantar ke rumah pamannya dengan naik sepeda ontel,” ujar Sutarti seperti dilansir dari Kompas.com.

Ia mengenal Jokowi saat orang tuanya, Noto Mihardjo dan Sudjiatmi, pindah rumah di pinggir bantaran Kali Anyar Solo sekitar tahun 1964. Saat itu, Jokowi kecil masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Jokowi kecil, kata Sutarti, sering bermain dengan sebayanya di pinggir kali. Berbeda dengan teman-temannya, Jokowi lebih banyak diam saat bermain. Namun, di balik diamnya, ternyata Jokowi sangat perhatian dengan teman sebayanya.

Lantaran bertetangga, Tarti pun menjadi akrab dengan ibunda Jokowi. Tak jarang, ia diminta membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengantar Jokowi ke rumah pakdenya. “Saya sering boncengkan pakai sepeda ontel ke pakdenya (Pak Miyono) di Gondang. Kalau tidak mau, (Jokowi) menangis. Saya suruh makan dahulu, ya tidak mau. Pokoknya nangis itu minta ke sana,” kata Tarti.

Lima tahun kemudian, orang tua Jokowi pindah rumah di Sumber karena saat itu seluruh rumah yang berada di pinggir bantaran kali Anyar direlokasi. Lokasi pengganti dijual ke orang lain, lalu orang tua Jokowi membangun rumah di Sumber.

Dan meski kini Jokowi sudah menjadi “orang besar”, Tarti mengatakan dirinya tidak dilupakan. Saat menjabat sebagai wali kota Solo dan Gubernur DKI, Jokowi masih mau menemuinya.

“Hanya saja saat ini dibatasi protokoler sehingga tidak bisa sedekat dahulu. Kalau dahulu saya sudah biasa tidur di sana. Sekarang tidak lagi,” ujar Tarti.

Ia pun merasa bersyukur saat Jokowi dinobatkan menjadi presiden RI ketujuh masih mengingat keluarganya. Hal itu terbukti, saat ibunya meninggal, Jokowi datang melayat. Namun suatu saat diwawancara salah satu televesi swasta di Jakarta, hati Tarti berdebar-debar. Ia khawatir, Jokowi yang saat itu menjabat sebagai gubernur DKI membuat pernyataan tidak mengenalnya.

“Ternyata dia jawab kenal,” ujar Tarti lega.

Kekakraban dan kekeluargaan Jokowi kepadanya tidak berubah hingga saat ini. Ia pun rutin datang ke rumah Jokowi di Sumber, Banjarsari saat lebaran tiba. Hanya saja, sampai saat ini belum pernah menemui Jokowi di Istana Negara.

Karena kedekatannya dengan Jokowi, Warga Nayu Barat, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo ini, banyak dicari orang berduit. Orang berduit itu meminta pertolongan Tarti untuk menghubungkan dengan Presiden Jokowi.

Kepentingannya mulai dari masalah tersangkut kasus hingga perizinan perusahaan. Namun Tarti menolak tawaran pengusaha. Ia mengingat pesan Jokowi kepadanya saat pertama menjabat sebagai wali kota Solo.
“Ada yang datang pengusaha ke rumah minta tolong dihubungkan ke Pak Jokowi tetapi saya menolaknya. Saya bilang tidak bisa. Saya masih ingat betul saat Jokowi diangkat jadi wali kota. Saat itu semua dikumpulkan. Dia sampaikan kalau ingin pekerjaannya baik jangan pernah memanfaatkan saya. Omongan itu saya pegang,” tandas Tarti.

Menurut Tarti, sikap Jokowi itu juga diberlakukan bagi anak-anaknya. Pasalnya, kalau dilihat dari kesederhanaan anaknya berarti tidak memanfaatkan kekuasaan bapaknya yang menjadi presiden. [LEA]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *