Janji Rp 10 ribu per dolar AS: Antara Gimmick Politik Jokowi dan Realita Ekonomi

0

VNEWS– Sepuluh tahun yang lalu, pada Februari 2014, Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, memprediksi dengan penuh keyakinan bahwa nilai tukar rupiah akan menguat signifikan jika Joko Widodo menjadi presiden. Dengan optimisme tinggi, Lana memperkirakan bahwa rupiah bisa menyentuh level Rp 10 ribu per dolar AS, berkat stabilitas politik dan arus modal masuk yang diharapkan terjadi pasca pemilu yang berjalan lancar.

Namun, sepuluh tahun berselang, kenyataan berbicara lain. Dengan masa kepemimpinan Jokowi yang tersisa sekitar enam bulan, nilai tukar rupiah justru melemah ke atas Rp 16 ribu per dolar AS dalam sepekan terakhir. Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, pada 19 April 2024, rupiah berada di level Rp 16.280 per dolar, jauh dari angka Rp 10 ribu yang dijanjikan. Tren pelemahan ini bukan fenomena sesaat; nilai tukar rupiah terus berada di atas Rp 15 ribu sejak Bank Sentral AS atau The Fed menaikkan suku bunga pada Juli 2023.

Realitas ini mengungkap satu hal: prediksi Lana dan janji-janji politik Jokowi ternyata kosong belaka. Stabilitas yang diharapkan tak kunjung datang, dan justru, nilai tukar rupiah menunjukkan tren melemah. Presiden yang dulu diharapkan sebagai penyelamat ekonomi kini lebih sering terlihat bermain gimmick politik daripada menghadirkan solusi nyata.

Gimmick politik memang menjadi ciri khas kepemimpinan Jokowi. Dari program-program yang diiklankan secara besar-besaran namun minim hasil, hingga pernyataan-pernyataan populis yang mengesankan kepedulian terhadap rakyat, semua itu hanya memperlihatkan kepiawaian dalam bermain kata-kata. Sementara itu, kondisi ekonomi yang sesungguhnya jauh dari kata stabil.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mencoba meredakan kekhawatiran dengan membandingkan kondisi rupiah dengan mata uang negara lain seperti Korea, Filipina, Thailand, hingga Jepang. Menurutnya, depresiasi mata uang rupiah masih lebih rendah dan stabil dibandingkan negara-negara tersebut. Namun, perbandingan ini lebih mirip upaya mencari pembenaran daripada memberikan solusi konkrit.

Perry mengklaim bahwa Bank Indonesia telah melakukan berbagai intervensi untuk menstabilkan nilai tukar, termasuk menarik portofolio asing ke dalam negeri. Namun, upaya ini tampaknya belum cukup efektif untuk mengatasi pelemahan rupiah yang terus berlanjut. Nilai surplus perdagangan yang terus menipis, serta kebijakan suku bunga yang ketat dari The Fed, terus menjadi faktor utama yang menekan rupiah.

Jika kita melihat kembali, janji Jokowi dan prediksi Lana Soelistianingsih yang menyebutkan bahwa rupiah akan menguat hingga Rp 10 ribu per dolar AS terlihat sangat jauh dari kenyataan. Janji tersebut kini terkesan sebagai angin surga yang dihembuskan untuk menarik simpati rakyat dan investor. Kenyataannya, pemerintahan Jokowi lebih banyak berbicara dan berjanji daripada bekerja dan mewujudkan stabilitas ekonomi yang dijanjikan.

Dalam situasi ini, kita diingatkan pada pepatah lama, “banyak omong tapi tak bisa kerja,” yang menggambarkan keadaan dengan sempurna. Janji yang diucapkan sepuluh tahun lalu hanyalah bayangan semu yang kini terbukti tak lebih dari omong kosong. Gimmick politik mungkin bisa menghibur sesaat, tetapi pada akhirnya, rakyat membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar janji manis yang berakhir dengan kekecewaan.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin paham bahwa yang diperlukan adalah pemimpin yang bisa bekerja, bukan hanya pintar bermain kata. Sepuluh tahun pemerintahan Jokowi telah memberikan pelajaran berharga tentang betapa pentingnya integritas dan kemampuan nyata dalam memimpin negara, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang kompleks.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *