Membaca Makna ‘Korea-Korea’ dalam Cahaya Bambang Pacul

0

Perkataan Korea-Korea melambangkan Epos Kehidupan dan Semangat Berjuang

VNEWS– Dalam riuh rendah dunia politik yang sering kali kaku dan berwajah serius, sebuah istilah baru tiba-tiba mewarnai perbincangan, ‘korea-korea’. Istilah ini diucapkan oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Ir. Bambang Wuryanto, atau yang lebih akrab disapa Bambang Pacul. Istilah korea-korea ini meluncur dari bibirnya dalam sebuah rapat formal Komisi III DPR RI, di hadapan Menkopolhukam dan Kepala PPATK, menggugah rasa penasaran banyak pihak.

Istilah ‘korea-korea’ menurut Bambang Pacul begitu populer di kalangan masyarakat Jawa. Berdasarkan cerita-cerita lama, ‘korea’ merujuk pada pasukan Jepang dari Korea, yang meskipun tak segagah tentara Jepang, memiliki militansi yang tinggi. Di tanah Jawa, istilah ini berkembang, mengacu pada orang-orang dari kelas bawah yang memiliki semangat luar biasa untuk melompat ke strata sosial yang lebih tinggi, bagaikan angin yang tak pernah lelah mengejar puncak gunung.

Dalam sebuah acara bertajuk ‘Kongkow Bambang Pacul’, yang diadakan di Joglo Panglipuran Borobudur, Kabupaten Magelang, Bambang Pacul berbicara di hadapan para millennial dan Gen Z. Di sana, ia menjelaskan bahwa untuk menjadi ‘korea’ sejati, seseorang harus memiliki tujuan hidup yang dipegang erat, bagaikan pelita di tengah gelapnya malam.

“Yang dikau pelihara sebagai korea adalah niatmu. Nawaitu-mu yang harus dibasuh sampai mengkilat. Inilah yang akan membentuk kehendak subjektif,” ujar Bambang Pacul, dengan nada yang sarat kebijaksanaan, pada hari Rabu, 8 Februari 2024 lalu.

Untuk melenting ke atas, lanjutnya, seorang ‘korea’ harus mengenali dirinya sendiri. Mereka harus memilih apakah akan mengembangkan pemikirannya, kekuasaan, atau finansial. Bagi mereka yang memilih jalan kekuasaan, partai politik adalah galah yang paling tepat untuk menggapai impian.

“Partai politik itu adalah bagian dari rakyat Indonesia. Kalau bicara fungsi, maka partai politik punya fungsi aspirasi yang mirip dan membedakan dengan partai politik lainnya. Aspirasi ini kemudian diagregasikan dan diartikulasikan. Untuk memperjuangkan butuh kader, maka fungsi rekrutmen kader harus dilakukan, fungsi edukasi harus dilakukan. Kemudian setelahnya fungsi elektoral dan budgeting,” terangnya, dengan mata berkilat-kilat penuh semangat.

Bambang Pacul juga menegaskan pentingnya memahami bahwa seluruh pejabat publik berasal dari lingkungan politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika partai politik disebut sebagai galah yang tepat bagi para ‘korea’ untuk melenting ke atas. Ia mengingatkan bahwa partai politik yang diisi oleh orang-orang busuk hanya akan merusak republik ini.

“Jika ada yang bukan kader, maka itu menandakan partai belum sehat. Kalau partai politik diisi orang busuk, maka republik ini akan rusak, karena politik inilah yang akan menentukan republik ke depan,” tegasnya, suaranya menggema dengan ketegasan yang tak bisa dibantah.

Dalam perjuangan mereka, para ‘korea’ tidak akan patah apabila menghadapi tantangan dan masalah. Bambang Pacul menggambarkan ‘korea’ sejati sebagai mereka yang mampu menghitung risiko maksimal sekaligus menunjukkan perlawanan dengan gigih.

“Maka, kita tunjukkan perlawanan sampai akhir. Kekoreaanmu ditunjukkan dari gimana kamu melawan. Suatu hari, orang akan respect ke kamu. Korea harus paham risiko maksimal dan kamu harus siap untuk menerima risiko itu,” tuturnya, memberikan dorongan semangat yang membara.

Seperti biasanya, Bambang Pacul menutup dengan petuah bijak yang meminjam dari pemikiran Ki Hajar Dewantoro, mengajarkan bagaimana memenangkan hati dan pikiran orang lain.

“How to win the heart and then how to win the mind. Ki Hajar Dewantoro pernah mengajarkan asih dulu, menangkan hatinya. Kemudian asah, apa yang didiskusikan, infiltrasikan pikiran. Baru kemudian dihidup-hidupkan pemikiran itu atau asuh. Yang perlu dikau pahami, di dalam hati kamu harus ada bara api yang tak kunjung padam, barangkali bara ini yang memancar. Hiduplah dalam bahagia, kerjarlah kebahagiaanmu,” tandasnya, meninggalkan pesan yang akan terus diingat oleh mereka yang hadir, bagai jejak-jejak indah di tepian pantai yang tak pernah terhapus oleh waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *