Ancaman People Power Itu Tak Memenuhi Syarat

VNEWS.ID| Memasuki Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, tak lagi seram. Namun, tetap disiplin dan sigap serta siaga. Setelah memberikan identitas yang jelas, para prajurit yang berjaga langsung memberi arahan yang tepat ke tujuan di antara hamparan gedung yang dikelilingi taman dan pohon-pohon yang sangat rindang.

Hari itu, Jumat pekan lalu, wartawan BeritaSatu.com Nurlis E Meuko dan Muhamad Al Azhari diterima oleh Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia (TNI) Letnan Jenderal Joni Supriyanto. Sebetulnya, ini adalah kunjungan silaturahmi yang berlanjut menjadi wawancara khusus dengan jenderal bintang tiga yang pernah menjabat sebagai panglima Kodam Jaya.

Letjen Joni Supriyanto. adalah seorang perwira tinggi yang bergaya lugas dan tanpa basa-basi. Ia menjawab sejumlah pertanyaan menyangkut TNI yang selama ini menjadi pembicaraan di publik, terutama berkaitan dengan pemilu pada 17 April 2019 ini. Berikut kutipannya:

Bagaimana pemetaan risiko pemilu 17 April 2019 ini?
Kita memitigasi, dan mengikuti di berbagai wilayah. Memang ada beberapa kendala, tetapi sejauh ini masih terkonfirmasi bagus.

Tetapi saat ini muncul kekhawatiran intimidasi untuk menakut-nakuti pemilih, sehingga ada imbauan untuk tetap nyoblos?
Saya kira wajar, pemerintah dan sebagai kepala negara meyakinkan seluruh lapisan masyarakat untuk nyoblos. Beliau (Presiden Joko Widodo) selain juga sebagai capres, tetapi juga penyelenggara negara. Beliau menanamkan keyakinan kepada seluruh masyarakat mengatakan jangan takut karena ini yang menentukan untuk lima tahun ke depan. Kalau mereka tidak datang kan tidak memilih, memberikan suaranya. Imbauan itu saya kira sangat wajar, untuk mengawal pemilu.

Gerakan people power, menurut saya syaratnya tidak terpenuhi saat ini. Sekarang begini, hari ini kan tidak ada kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat secara masif.

Apa antisipasi TNI terkait ancaman provokasi dan intimidasi dari golongan tertentu?
Saya pikir masih di tingkat normal, ada di beberapa daerah, dan lain-lain. Ini merupakan strategi untuk memengaruhi, bagaimana merebut opini, di antaranya melakukan sesuatu, kasarnya intimidasi. Namun, sejauh ini kami tidak melihat hal-hal yang terlalu luar biasa. Kita sudah kerja sama dengan penyelenggara pemilu, KPU dalam pengiriman logistik pemilu. Sampai hari ini tidak ada masalah. Pemilu sampai ke TPS tidak ada masalah.

Apakah sudah ada antisipasi kawasan-kawasan rawan konflik?
Pemetaan daerah rawan konflik sudah dari awal kita mengikuti dan memetakannya. Tetap saja yang paling rawan itu adalah Jakarta. Muara pemilu kan di MK di Jakarta. Ujungnya di sana. Perlu kita pahami bersama, bahwa masyarakat kita ini sangat taat hukum. Ada yang pernah menentang keputusan MK?

Bagaimana dengan kekhawatiran delegitimasi hasil pemilu?
Enggak, itu enggak pernah ada di negara kita. Masyarakat itu sekarang itu berpikirnya sudah lebih cerdas, lebih maju, dan sikap patriotismenya jauh lebih tinggi.

Apakah setelah pemilu nanti akan ada rekonsiliasi bangsa ini, sebab sekarang terpolarisasi 01-02?
Itu nanti akan selesai dengan sendirinya, setelah pemilu nanti kedua belah pihak sudah gabung. Kalau kita ikuti perjalanan politik tokoh-tokoh, lihat saja nanti, nanti cepat menyatu kembali. Kan memang sudah begitu dari dahulu.

Kami sangat detail memikirkan rencana kontingensi, kemungkinan terjeleknyalah. Tentu itu tetap ada, kita tetap siap, tetapi kan hal itu dilandasi akan kejadian yang lalu, bagaimana kedewasaan bangsa ini dalam proses demokrasi. Bangsa ini sudah hebat dari dulu kok. Yakinlah.

Saya lihat semua sudah melakukan tugasnya dengan baik. Misalnya, KPU sudah mengatur jadwal kampanye supaya antarpendukung tidak bertemu. Ini upaya untuk meminimalisasi gesekan.

Bangsa ini sudah firm kalau Pancasila itu yang terbaik untuk negara ini. Saya yakin itu, inti Pancasila itu toleransi dan gotong royong. Itu sosial kapital yang tidak dimiliki negara lain.

Soal ancaman separatis dan non-Pancasila yang berusaha menggiring?
Kalau menurut saya ancaman tetap ada, kami TNI, mengelompokkan ancaman ideologi itu sama, satu kiri dan satu kanan. Namun, bangsa ini sudah firm kalau Pancasila itu yang terbaik untuk negara ini. Saya yakin itu, inti Pancasila itu toleransi dan gotong royong. Itu sosial kapital yang tidak dimiliki negara lain. Keunikan kita. Dan memang Pancasila itu perkasa. Itulah modal sosial milik bangsa ini. Sikap toleransi kita tinggi.

Lalu soal people power yang digaungkan Amien Rais itu ancaman riil atau tidak?
Soal komentar itu saya kira bagian dari upaya meraih kemenangan di pemilu. Kami sudah mengantisipasi itu. Namun, kita semua perlu ingat apa syarat yang dibutuhkan untuk sebuah people power? Menurut saya syaratnya tidak terpenuhi saat ini. Sekarang begini, hari ini kan tidak ada kebijakan pemerintah yang merugikan masyarakat secara masif.

Selain itu, perilaku negatif pemerintah juga tidak ada. Bahan pokok tersedia, baik distribusinya maupun supply. Lapangan pekerjaan relatif oke, pertumbuhan ekonomi cukup bagus. Angka lima sekian itu kan bagus. Kemudian berpolitik juga bebas, tidak ada yang larang dan intimidasi. Institusi pemerintah tidak ada yang mengintimidasi. Jadi syaratnya tidak ketemu.

Ada kritik untuk TNI yang dinilai lemah, bisa dijelaskan?
Kan kita hari ini membangun kekuatan militer, gelar pasukan yang kita miliki semaksimal mungkin bisa tergelar dimaksimal teritori Indonesia. Sekecil apa pun gangguan bisa teratasi. Saya pikir yakinlah kita. Sedangkan kemampuan SDM dan teknologi, kita menyatukan dengan bujet yang ada itu yang kita maksimalkan.

Ini semua juga tidak lepas dari pada doktrin TNI. Kita kan doktrinnya defensif tidak ofensif. Kita mempertahankan diri, bagaimana agar kita tidak diserang.

Kekuatan TNI yang menjadikan institusi yang paling dipercaya di publik ini kan karena pembinaan teritorial. TNI itu institusi yang mudah dimobilisasi untuk membantu rakyat. Karena memang itu tugasnya, penanggulangan bencana, dan lain-lain.

Bagaimana dengan kedaulatan di ruang siber?
Di luar sana siber sudah menjadi seperti angkatan tersendiri, cyber army. Kita ingin ke sana, tetapi memang mahal biayanya. Kita harus siapkan personelnya, peralatan. Di negara maju seperti itu. Mengarah ke sana, kita juga mau enggak mau harus mengikuti perkembangan teknologi.

Sumber: BeritaSatu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.