345 DIBACA

Jokowi “Kembalikan Roh Sarinah” Soekarno

“Saya punya tamu dari luar negeri, enggak tahu mau dibawa ke mana. Kita tidak punya tempat yang bisa menggambarkan ini Indonesia. Kita harus punya satu, di mana tamu bisa melihat ini budaya kita, produk kita dan semua tentang kita.”

Begitu sepenggal pernyataan Jokowi, yang saya dengar dari seorang teman yang kebetulan dekat dengannya. Jokowi resah dengan Indonesia yang sudah kehilangan keIndonesiaannya, yang dia bahkan tidak bisa memamerkan kekayaannya.

Beruntunglah kita punya seorang Jokowi. Dialah yang memelihara mimpi-mimpi besar Soekarno. Mulai dari keinginan menjadikan Indonesia mandiri dan maju, sampai ke hal yang kecil seperti mengembalikan Sarinah.

Jokowi SoekarnoJokowi dan Soekarno. (Foto: Facebook Presiden Joko Widodo dan Wikipedia)

Inspirasi itu memang datang dari Soekarno, Presiden pertama RI. Soekarno waktu itu punya keresahan yang sama, negeri ini harus punya satu tempat untuk memamerkan kekayaan negeri ini. Oleh karena itu, dibangunlah Sarinah, mal pertama dan tertua di Indonesia.

Ya, Sarinah mau dikembalikan lagi ke konsep awal, tempat memamerkan produk UMKM khas Indonesia. Di sana harus Indonesia semua. Makanya Mc Donald tidak boleh ada di sana, karena mereka tidak bisa merepresentasikan negeri ini. Kecuali mereka mau dagang kopi Indonesia.

Sejak negeri ini dipimpin Soeharto, Sarinah sudah bergeser dari fungsi awalnya. Ruangnya diperjualbelikan supaya yang memegang dapat cuan. Mereka tidak paham roh awalnya, hanya sibuk memenuhi kantong pribadinya saja.

Beruntunglah kita punya seorang Jokowi.

Dialah yang memelihara mimpi-mimpi besar Soekarno. Mulai dari keinginan menjadikan Indonesia mandiri dan maju, sampai ke hal yang kecil seperti mengembalikan Sarinah.

Jokowi memang bukan anak biologis Soekarno, dia adalah anak ideologisnya.

Kelak, ketika renovasi selesai, para tamu luar negeri akan selalu dibawa ke Sarinah, dipamerkan kekayaan Indonesia dengan penuh kebanggaan.

Sarinah adalah simbol. Dan simbol itu harus terus dipegang, karena itulah jati diri kita sebenarnya.

Seruput kopinya.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi