Membedakan Blusukan Jokowi dengan Politisi Lainnya

VNewsIndonesia | Boleh dibilang, blusukan adalah ciri khas otentik Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sejak masih menjadi walikota Solo, gubernur DKI Jakarta hingga menjadi presiden Indonesia blusukan tak bisa lepas dari karakter Jokowi yang merakyat.

Bagi Jokowi, blusukan adalah turun ke bawah, turun ke daerah, turun ke masyarakat, menggali masalah-masalah mereka, mendengar aspirasi-aspirasi mereka, mendengar keinginan-keinginan mereka, juga mengetahui secara detail apa kepentingan masyarakat.

Dari gaya komunikasi blusukan itulah Jokowi memetakan masalah, lalu menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menjawab problem masyarakat di lapangan.

Kebijakan yang baik, menurut Jokowi, bukanlah tentang seberapa banyak yang telah dilakukan pemerintah tetapi seberapa banyak manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat bawah.

Blusukan, bagi Jokowi, juga berarti mengawal setiap kebijakan yang telah dibuatnya. Dari hulu sampai hilir, mulai dari mengontrol, mengecek, mengawasi, hingga memonitor. “Selalu kita lihat di lapangan dan itu melihat dari sisi kepentingan masyarakat,” papar Jokowi, suatu ketika.

Atas dasar itu pula, Jokowi kerap mengingatkan para jajaran di bawahnya untuk bisa melihat keadaan dari pandangan dan sisi kepentingan masyarakat bawah.

Maka, tak mengagetkan jika kita pernah melihat Jokowi―saat menjadi gubernur DKI Jakarta―melantik HR Krisdianto dan Husein Murad sebagai walikota dan wakil walikota Jakarta Timur, di lapangan bekas pembuangan sampah, 20 Desember 2012 silam.

Demokreatif – Karya Adalah Doa

Mereka sengaja dilantik di tengah-tengah ratusan warga Gang Swadaya, Kampung Pulo Jahe, Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, agar bisa merasakan denyut masalah yang dihadapi rakyat.

Gaya Jokowi saat blusukan juga terlihat santai. Ia benar-benar membaur dan merasakan denyut nadi kehidupan rakyat.

Jokowi pun biasanya tak tak mau mengikuti aturan protokoler. Ia tiba-tiba bisa memerintahkan balik kanan, melihat langsung kondisi di lapangan ketimbang harus menghadiri acara seremonial yang telah dipersiapkan. Hal itu bisa dilihat ketika Jokowi menyambangi warga yang mengungsi akibat letusan Gunung Sinabung, di Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

Demokreatif – Karya Adalah Doa

Jokowi juga bisa asyik berjongkok, ngobrol-ngobrol dengan para pedagang di pasar. Ia memilih menyerap informasi langsung daripada mendengar bisikan dari anak buahnya.

Baca Juga :  12 Jam Setelah Debat Capres 2019, Jokowi ke Stasiun Rancaekek Sapa Masyarakat

Maka jangan heran bila Jokowi tahu persis harga sawi hijau turun dari Rp 8.000 menjadi Rp 7.000 atau buncis dari Rp 16 ribu melorot jadi Rp 12 ribu per kilogram.

Gambaran seperti itulah yang dilakukan Jokowi tadi malam di Pasar Bogor, di Jalan Roda, Kota Bogor. Ia sengaja datang tengah malam, di luar agenda kerja.

Demokreatif – Karya Adalah Doa

Sebagai presiden ia ingin mengecek secara langsung harga-harga komoditas rakyat yang sebenarnya. Bagi Jokowi, naik-turun harga dalam perdagangan itu biasa.

Harga komoditas di pasar yang ditemuinya memang sejalan dengan kondisi makro ekonomi Indonesia, sesuai dengan besaran inflasi yang di bawah 3,5 persen. Inflasi stabil, harga di pasar pun ikut stabil.

Gaya blusukan Jokowi yang fenomenal itu pernah dibuat sebagai gambar sampul oleh Tim Demokreatif. Pada masa kampanye pilpres 2014, para seniman grafis yang dikomandani Hari Prast itu membuat tema kampanye Kisah Blusukan Jokowi.

Demokreatif – Karya Adalah Doa

Mereka membuat tak kurang dari 19 karya visual berbentuk seperti sampul komik yang menggambarkan Jokowi yang tengah melakukan blusukan ke berbagai penjuru Indonesia. Desain-desain itu sungguh asyik, kreatif dan riang gembira.

Bagaimana dengan blusukan-blusukan para politisi lain? Biasanya aktivitas itu hanya terlihat dilakukan tatkala menjelang pemilu.

Mereka biasanya berbicara kepada pedagang di pasar sekadarnya saja. Biar suaranya terdengar lantang, kadang terpaksa harus memanjat kursi atau dibantu memakai pengeras suara.

Materi yang dibicarakannya, apa boleh buat, kadang tak disokong oleh data yang kuat. Harga di pasaran yang tergolong stabil dan murah bisa dibilang jadi semakin mahal. (MOH)

Leave a Reply

Your email address will not be published.