Pemberian Gelar Laksamana Kepada Neno Warisman Merusak Narasi Sejarah Aceh

VNEWS.ID | Penyematan gelar kehormatan Laksamana Muda Cut Nyak Dien kepada Aktivis #2019gantipresiden kepada Neno Warisman mulai menimbulkan polemik dan penolakan oleh  aktivis kebudayaan serta para pegiat  sejarah Aceh.  Menurut   Haekal Afifa Aktivis Kebudayaan Aceh , pemberian gelar Laksamana Cut Nyak Dhien kepada Neno Warisman di sela-sela kegiatan pengukuhan komunitas #2019PrabowoSandi di Gedung Haji Yusriah Lampeunerut, Aceh Besar, Aceh, pada Minggu, 30 September 2018  tidak memiliki dasar sejarah Aceh yang jelas.

“Dari mana muncul dasar gelar itu ada? Tidak pernah ada satupun sejarah Aceh yang menyebutkan Cut Nyak Dhien itu Laksamana, jadi jelas gelar itu abal-bal,” ujar Haekal Afifa yang merupakan Ketua Institut Peradaban Aceh , Senin (1/10/2018), di Banda Aceh.

Haekal Afifa menjelaskan gelar laksamana dalam Qanun Syara’ Al Asyi (undang-undang kerajaan Aceh) disebutkan seorang laksamana harus memiliki 15 syarat di antaranya memahami strategi perang, setia kepada sultan, negara, rakyat, serta mampu memanajemen pasukan.

“Jadi tidak segampang itu, seseorang bisa disematkan atau diberi gelar laksamana,” ungkap Haekal Afifa.

Untuk itu, Haekal Afifa berharap, para politisi atau pihak yang memberi gelar kepada Neno Warisman tersebut meluruskannya, agar tidak terjadi penyesatan sejarah.

“Berpolitik sah-sah saja dan silahkan , tapi jangan pernah merusak narasi sejarah Aceh,” ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Pegiat sejarah Aceh, Mizuar Mahdi. Menurut pegiat sejarah Aceh itu pemberian gelar laksmana muda dibarengi nama pahlawan asal Aceh Cut Nyak Dien terkesan sangat tidak memandang konteks sejarah serta sosok yang diberi gelar.

Laksmana itu kepangkatan. Seorang laksmana berurusan dengan kemaritiman. Kemudian Cut Nyak Dien itu pejuang yang berperang melawan Belanda. Dan itu tidak ada kaitannya dengan aktivis politik Neno Warisman,” ujar Mizuar, Minggu (30/9/2018).

Baca Juga :  Nyak Sandang Bahagia Bisa Melihat Jokowi

Seorang politisi Neno Warisman, dalam pandangan Ketua LSM, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) itu, tidak memiliki dua hal yang disebutnya tadi.

Neno Warisman tidak pernah menjadi pemimpin armada maritim, juga tidak pernah berperang melawan Belanda. Lagi pula, menurutnya, Cut Nyak Dien sendiri adalah sosok, bukannya sebuah gelar yang dapat disematkan terhadap seseorang.

Karena itu, dalih bahwa pemberian gelar itu hanya karena aktivis perempuan itu dinilai sebagai sosok wanita pemberani, sangatlah tidaklah cukup.

Mizuar Mahdi mengakui, sang pemberi gelar, yakni Saifullah, memang memiliki silsilah yang masih tersambung dengan Raja Meureuhom Daya, yakni raja pada masa Kesultanan Daya, sebelum Kesultanan Aceh Darussalam terbentuk, dan yang akhirnya bergabung dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

Akan tetapi , menurutnya, pemberian gelar laksmana dibarengi nama tokoh pejuang Aceh yang gaungnya hingga ke Sumedang, Jawa Barat itu, perlu ditilik ulang, mengingat nama tersebut begitu sakral di mata Aceh dan dunia.

Pemberian gelar kepada politisi Neno Warisman sendiri ditandai dengan penyematan selendang dan rencong kepada bintang film di era 1980-an yang kini aktif di bidang keagamaan, sosial, dan pendidikan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *