Nurhadi Wibowo: Tekad Anak Petani di Balik Penemuan Deposit Tembaga Kelas Dunia di Proyek Hu'u

B

Bambang GS

Jul 04, 2026 · 1 hour ago

Nurhadi Wibowo: Tekad Anak Petani di Balik Penemuan Deposit Tembaga Kelas Dunia di Proyek Hu'u
Nurhadi Wibowo: Tekad Anak Petani di Balik Penemuan Deposit Tembaga Kelas Dunia di Proyek Hu'u

Mataram (Visualnews) - Dalam bahasa Jawa, terdapat petuah luhur berbunyi “Mikul dhuwur mendhem jero”, yang secara maknawi berarti menjunjung tinggi kebaikan, jasa, dan kehormatan orang lain, sekaligus menutup rapat kekurangan mereka.

Bagi Nurhadi Wibowo, petuah itu menjadi paham yang ia pegang erat sejak muda. Tumbuh dari keluarga petani sederhana di perdesaan Yogyakarta, ia membulatkan tekad meraih gelar sarjana demi mengangkat derajat keluarga.

Tekad itulah yang kemudian membawanya pada perjalanan karier luar biasa, menjadi bagian dari tim penemu deposit tembaga-emas kelas dunia di Proyek Hu’u.

Seperti dikutip dari situs sumbawatimurmining.com, pria yang akrab disapa Bowie itu dibesarkan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Masa studi sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi juga ia habiskan di Yogyakarta yang terkenal dengan istilah Kota Pelajar.

Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, ia sudah bertekad ingin masuk jurusan teknik dengan satu syarat yang ia tetapkan sendiri, apabila tidak berhasil masuk perguruan tinggi negeri, ia tidak akan kuliah mengingat keterbatasan biaya. Berkat kegigihan dan dukungan penuh keluarga, ia berhasil lolos ke Jurusan Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada.

Bowie mengenang, kuliah di jurusan geologi bukanlah perjalanan yang mudah, terutama dari segi biaya. “Pagi sampai siang kuliah teori, sore praktikum, dan akhir pekan ada field trip ke luar Yogyakarta yang sering kali membutuhkan biaya tambahan,” ujarnya.

Untuk menambah uang saku, Bowie aktif menjadi panitia acara di kampus, asisten praktikum di laboratorium, dan sempat menerima beasiswa yang dicairkan tiap tiga bulan. Ia menjalani semua itu dengan semangat, dengan keyakinan bahwa setiap langkah yang ditempuh adalah investasi untuk masa depan.

Setelah lulus kuliah di tahun 2007, Bowie memulai karier di perusahaan jasa konsultan pertambangan, lalu terlibat dalam proyek eksplorasi di Sumatra Utara dan Sulawesi Utara.

Ia sempat melamar ke PT Sumbawa Timur Mining (STM) yang mengelola Proyek Hu’u, tetapi belum berhasil. Namun pada 2011, salah satu kolega Bowie di STM justru memberikan kabar perihal sebuah peluang. “Kalau memang jodoh, tidak ke mana,” ucapnya sambil tersenyum.

Saat pertama kali bergabung di Proyek Hu’u, Bowie belum memiliki gambaran jelas mengenai kondisi geografi area ini. Namun, rasa penasaran mendorongnya untuk bereksplorasi lebih jauh. “Areanya masih hutan belantara, aksesnya susah sekali. Namun dibandingkan tempat sebelumnya, ini terasa lebih menantang,” ujarnya.

Ia mengingat, saat itu tim sedang fokus pada pengeboran eksplorasi di area Humpaleo. Meskipun terdapat deposit yang ditemukan di sana, tetapi belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh tim eksplorasi.

Wilayah jelajah pun diperluas, termasuk ke area yang dikenal dengan nama Onto. Menariknya, batuan di permukaan Onto tidak terlihat menjanjikan secara geologis karena alterasinya kurang mencolok, tidak seperti batuan yang lazim diasosiasikan dengan deposit.

Namun saat pemetaan detail, tim menemukan batuan breksi diatreme yang membawa material dari kedalaman dan mengandung mineralisasi. Singkapannya kecil, anomali tembaganya rendah hingga sedang, tetapi dibandingkan batuan sekitarnya sinyal itu sudah cukup signifikan.

Setelah informasi awal diperkuat dengan data geofisika dan anomali tanah, tim mengajukan proposal pengeboran di area Onto. Manajemen perusahaan memberikan lampu hijau untuk melanjutkan upaya eksplorasi tersebut.

Singkat cerita, pada Juni 2013, momen paling krusial pun terjadi. Saat itu, tim melakukan pengeboran lubang VHD3034 dan belum menemukan mineralisasi sama sekali dari kedalaman 0 hingga hampir 500 meter. Sementara itu, waktu dan sumber daya untuk pengeboran nyaris habis. Upaya ini seolah menjadi taruhan terakhir sebelum area Onto tersebut ditinggalkan. “Semua sudah hampir menyerah, sudah siap-siap packing,” ujar Bowie.

Namun di balik ketidakpastian tersebut, manajemen perusahaan tetap berkomitmen untuk melanjutkan pengeboran hingga 800 meter. Beruntungnya, ketika menembus kedalaman 500 meter, batuan mulai berubah. Lalu sekitar 300 meter setelahnya, tim eksplorasi pun menemukan mineralisasi berkadar tinggi. Semangat kembali mencuat di kalangan tim yang terlibat dalam proses eksplorasi saat itu.

Satu lubang belum cukup untuk mendeklarasikan sebuah penemuan. Sekitar 15 lubang tambahan pun dirancang untuk mengetahui ukuran deposit, dan hasilnya konsisten serta menjanjikan. Pengeboran lanjutan dengan rig berkapasitas lebih besar akhirnya memungkinkan penemuan Deposit Onto dideklarasikan pada tahun 2019.

Penemuan Deposit Onto tidak hanya mengukir sejarah bagi Proyek Hu’u, tetapi juga mendapat pengakuan di panggung internasional.

Pada awal 2025, Bowie bersama tim mendapat kehormatan mempresentasikan temuan tersebut di hadapan puluhan ribu peserta konferensi pertambangan dan eksplorasi paling bergengsi di dunia, The Prospectors & Developers Association of Canada (PDAC). Antusiasme peserta pun terasa nyata.

“Banyak yang belum tahu sebelumnya. Mereka bertanya ‘Ini di mana, depositnya seperti apa, seberapa besar?’ Cukup membanggakan,” kenang Bowie.

Di antara ribuan wajah yang hadir, ada satu momen yang sempat membuatnya terpana. Di tengah keramaian pameran, ia tak sengaja berpapasan dengan manajernya dari proyek eksplorasi di Sumatra Utara, sosok yang sudah lebih dari satu dekade tidak ia jumpai.

“Dari kejauhan saya sudah merasa tidak asing dengan wajahnya. Begitu mendekat, kami langsung berpelukan,” ungkapnya.

Pertemuan itu semakin mengharukan karena sang manajer pernah berpesan saat berpisah. “Tidak apa-apa kamu keluar, tetapi saya ingin mendengar kamu menemukan deposit di tempat lain,” ujar Bowie menuturkan pesan tersebut.

Kata-kata itu terngiang kala Bowie berdiri di sana, membawa kabar tentang Onto. Tak kalah berkesan, di sela-sela konferensi Bowie sempat terlibat diskusi mendalam dengan sejumlah peneliti bergelar doktor dari Curtin University di Australia yang sangat fokus pada aspek teknis Deposit Onto.

Diskusi itu justru menggugah kesadarannya bahwa masih banyak hal tentang Onto yang belum terjawab secara ilmiah. “Diskusi itu membuat saya semakin ingin belajar dan mendalami deposit ini lebih jauh,” ujarnya.

Momen tersebut sekaligus menegaskan keyakinan Bowie bahwa perjalanan memahami Onto belumlah selesai, justru baru saja dimulai.

Bowie sering kali membagikan pengalamannya terkait Deposit Onto dalam seminar geologi, studi lapangan, dan forum keilmuan lainnya.

Bowie dengan tegas menyatakan bahwa pengakuan global itu bukan miliknya seorang. “Penemuan adalah milik tim, saya hanya bagian dari itu,” ujarnya.

Kini, perannya telah bergeser menuju fase pengembangan, memastikan data terkumpul dengan standar tinggi, mengelola tim geologi, dan memberikan masukan teknis ke berbagai departemen. Di luar pekerjaan, ayah tiga anak ini menemukan ketenangan dalam berkebun, sebuah hobi yang ia kaitkan dengan akar keluarganya sebagai petani.

Bowie juga aktif berbagi ilmu sebagai mentor bagi para geologis muda dalam berbagai program keilmuan seperti Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia. Pesannya untuk generasi muda selalu sama, beranilah keluar dari zona nyaman dan jangan takut gagal. Terpenting, jangan berhenti membaca. “Di dunia geologi, siapa yang membaca lebih dulu, dia yang unggul,” tegasnya.

Ia meyakini bahwa dunia berkembang cepat, dan satu-satunya cara untuk tetap relevan adalah dengan terus menggali hal-hal baru melalui publikasi, pelatihan, diskusi, maupun teknologi terkini.

Dari ladang keluarganya di Sleman hingga panggung internasional, perjalanan Bowie adalah bukti nyata bahwa mimpi yang ditopang kerja keras, doa, dan semangat tim dapat melampaui batas yang pernah dibayangkan. Ia tidak pernah melupakan petuah “Mikul dhuwur mendhem jero” yang menjadi kompasnya sejak muda.

Deposit Onto masih menyimpan banyak misteri yang menanti untuk diungkap dan Bowie bertekad terus hadir, belajar, berkolaborasi, dan berkontribusi. “Dari sekian banyak orang di dunia, ternyata kita bisa. Orang Indonesia itu mampu. Kami sudah membuktikannya,” pungkasnya. (V-02)