Mataram (Visualnews) — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Pemerintah Sarawak, Malaysia, resmi menyepakati penguatan kemitraan strategis di berbagai sektor kunci. Mulai dari tata kelola Pekerja Migran Indonesia (PMI), ketahanan pangan, perdagangan, pendidikan vokasi, hingga kemudahan investasi daerah.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, dengan delegasi resmi Pemerintah Sarawak di Pendopo Gubernur NTB, Mataram, Jumat (24/7/2026).
Kerja sama ini dihajatkan untuk memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat NTB, sekaligus menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di wilayah bagian utara Kalimantan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur yang akrab disapa Miq Iqbal ini menegaskan komitmen Pemprov NTB untuk mengubah total cara pandang pengelolaan pekerja migran. Pengiriman PMI kini diposisikan sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
"Kita ingin memastikan mereka berangkat dalam kondisi yang baik dan pulang tidak lagi miskin. Karena itu, kita siapkan skema pembiayaan, tabungan, hingga investasi produktif agar hasil kerja mereka benar-benar membangun masa depan keluarga," ujar Miq Iqbal.
Untuk merealisasikannya, Pemprov NTB menyinergikan program pengiriman PMI dengan penanganan kemiskinan ekstrem berbasis data by name by address. Calon pekerja asal desa-desa prioritas akan dibekali pelatihan dan sertifikasi kompetensi sebelum diberangkatkan.
Sertifikasi tersebut disesuaikan langsung dengan spesifikasi kebutuhan industri di Sarawak agar para pekerja memenuhi standar kerja internasional.
Di sisi lain, perwakilan Sarawak Land Consolidation and Development Authority (SALCRA) mengungkapkan bahwa sektor perkebunan di Sarawak saat ini masih membutuhkan pasokan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Pihak Sarawak menilai pekerja asal Lombok memiliki rekam jejak yang sangat positif, terutama dalam hal etos kerja dan produktivitas di lapangan.
"Kami masih memerlukan banyak tenaga kerja. Pekerja dari Lombok sangat produktif dan menjadi tulang punggung di banyak perkebunan kami. Karena itu kami berharap kerja sama ini dapat terus diperkuat," ungkap perwakilan SALCRA Sarawak.
Tidak hanya fokus pada sektor ketenagakerjaan, pertemuan ini juga memetakan potensi kerja sama ekonomi di bidang lain, antara lain di sektor pertanian dan peternakan. Mulai dari ekspor komoditas jagung, pengembangan industri pakan ternak, dan kemitraan peternakan sapi.
Selain itu juga sektor pendidikan dan keuangan, melalui penguatan pendidikan vokasi serta kolaborasi antarlembaga keuangan daerah untuk mempermudah transaksi bisnis.
Guna memastikan investasi asing berjalan lancar, Gubernur Miq Iqbal turut memperkenalkan NTB Capital, perusahaan holding milik Pemprov NTB yang bertindak sebagai fasilitator investasi.
Kehadiran NTB Capital dirancang untuk membantu calon investor menyelesaikan dua hambatan terbesar di daerah: kendala perizinan dan dinamika sosial masyarakat.
"Saya mendirikan NTB Capital karena saya memahami tantangan terbesar investor adalah urusan perizinan dan persoalan sosial. Biarkan investor fokus pada bisnisnya, sementara kami membantu menyelesaikan dua persoalan tersebut," tegasnya.
Pertemuan ini menjadi fondasi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara NTB dan Sarawak. Kedua belah pihak bersepakat untuk segera menyusun skema kerja sama teknis yang lebih konkret agar manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat di kedua wilayah. (V-02)