Praya (Visualnews) – PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) melalui Unit Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF) melaksanakan Airport Emergency Modular Exercise pada Rabu (5/8) sebagai bagian dari komitmen Perusahaan dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat di bandar udara.
General Manager Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Aidhil Philip Julian, menyampaikan bahwa latihan ini merupakan upaya Perusahaan untuk memastikan seluruh personel dan instansi pendukung memiliki pemahaman yang sama dalam menjalankan tugas saat terjadi keadaan darurat.
"Keselamatan merupakan prioritas utama dalam operasional bandar udara. Melalui Airport Emergency Modular Exercise ini kami ingin memastikan seluruh personel dan stakeholder terkait memiliki kesiapan, koordinasi, serta kemampuan merespons keadaan darurat secara cepat, tepat, dan sesuai prosedur. Penanganan keadaan darurat hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh unsur bekerja sebagai satu tim," ujar Aidhil.
Pada latihan kali ini disimulasikan pesawat Sekotong Air dengan nomor penerbangan SKT-218 rute Manado–Lombok dengan tipe Boeing 737-800 yang mengalami gangguan sistem hidrolik saat pendekatan menuju BIZAM. Kondisi tersebut menyebabkan Air Traffic Control (ATC) menetapkan status Full Emergency (Siaga II) yang kemudian berkembang menjadi Aircraft Accident (Siaga III) setelah pesawat mengalami runway excursion saat pendaratan.
Latihan difokuskan pada tiga modul utama, yaitu Raising the Alarm, Rendezvous Point (RVP), dan Medical Services, untuk menguji efektivitas komunikasi, koordinasi, mobilisasi sumber daya, serta penanganan korban sesuai Airport Emergency Plan (AEP).
Kegiatan ini melibatkan berbagai anggota Airport Emergency Committee, di antaranya AirNav Indonesia Cabang Lombok, Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). Pelaksanaan latihan juga di evaluasi oleh Tim Evaluasi Terpadu yang terdiri dari PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), AirNav Indonesia, dan Balai Kekarantinaan Kesehatan sebagai bagian dari upaya continuous improvement dalam meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan keadaan darurat.
Melalui kegiatan ini, BIZAM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat budaya keselamatan (safety culture), meningkatkan kompetensi personel, serta mempererat sinergi antar stakeholder guna memberikan pelayanan bandar udara yang aman, selamat, dan andal bagi seluruh pengguna jasa. Dengan kesiapsiagaan, penanganan keadaan darurat di bandar udara dapat dilaksanakan secara efektif sehingga mampu meminimalkan risiko serta memberikan perlindungan terbaik bagi seluruh pengguna jasa bandar udara.(V-01)