Mataram (Visualnews) — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Nusa Tenggara Barat (NTB) dipastikan bakal tampil beda dan jauh dari kesan kaku. Jika tahun-tahun sebelumnya puncak kemerdekaan didominasi oleh agenda formal birokrasi, tahun 2026 ini Pemprov NTB resmi meruntuhkan sekat tersebut dengan membentang karpet merah bagi seluruh lapisan masyarakat.
Masyarakat NTB tidak lagi hanya menjadi penonton di luar pagar. Pada perayaan HUT ke-81 RI mendatang, warga diundang langsung untuk membaur bersama para pejabat daerah, aparatur sipil negara (ASN), hingga personel TNI-Polri.
Kepastian perubahan konsep perayaan ini dimatangkan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Panitia Pelaksana HUT ke-81 RI yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair, di Gedung Sangkareang, Kantor Gubernur NTB, Rabu (5/8/2026).
Sekda NTB, Abul Chair, menegaskan bahwa esensi dari kemerdekaan selama 81 tahun adalah milik seluruh rakyat, bukan sekadar agenda rutin saban tahun milik pemerintah daerah semata.
"Kami ingin menggugah kembali rasa memiliki di tengah masyarakat. HUT RI ini bukan cuma milik Pemprov atau dinas-dinas, melainkan milik seluruh rakyat NTB yang telah bersama-sama menjaga dan membangun daerah ini," tegas Abul Chair di hadapan para kepala OPD dan unsur TNI-Polri.
Atmosfer kemerdekaan akan mulai disulut pada Jumat, 7 Agustus 2026. Sejak tanggal tersebut, halaman dan area sekitar kompleks pemerintahan akan ditransformasi menjadi panggung hiburan dan pusat kegiatan warga.
Asisten 1 Setda NTB, H. Fathul Gani, membeberkan sejumlah agenda menarik yang telah disiapkan untuk meramaikan pekan kemerdekaan. Selain upacara bendera dan parade budaya, Pemprov NTB menyiapkan pesta rakyat yang padat hiburan.
Beberapa daya tarik utama pesta rakyat tahun ini antara lain, Bazar Kuliner Gratis dan UMKM. Puluhan stan kuliner khas NTB dihadirkan untuk memanjakan lidah pengunjung sekaligus memberi panggung promosi bagi produk lokal.
Pertunjukan Tari Kolosal NTB, menampilkan atraksi seni budaya megah yang melibatkan ratusan penari lokal untuk menyemarakkan panggung utama.
Lomba Tradisional 'Jurakan' (Panjat Pinang), menjadi ajang penuh keakraban yang dapat diikuti langsung oleh masyarakat umum bersama jajaran pejabat serta personel TNI-Polri.
Satu Hari Berpakaian Adat, peserta upacara dan tamu undangan diwajibkan mengenakan busana adat dari berbagai penjuru Nusantara sebagai simbol kebhinekaan.
Tidak berhenti pada jajaran lomba dan panggung hiburan, keistimewaan perayaan tahun ini juga membuka ruang bagi warga untuk menyaksikan secara dekat momen sakral Upacara Detik-Detik Proklamasi serta Upacara Penurunan Bendera pada 17 Agustus 2026 mendatang.
Selain itu, Pemprov NTB juga mengerahkan pegawai PPPK Paruh Waktu dari seluruh instansi untuk menggerakkan pembagian dan pengibaran Bendera Merah Putih hingga ke pelosok permukiman warga.
"Inti dari seluruh rangkaian acara ini adalah mendekatkan pemerintah dengan rakyatnya. Kita ingin semua orang tersenyum, bergembira, dan merasakan langsung euforia kemerdekaan ini," pungkas Fathul Gani. (V-02)