243 DIBACA

Tuduhan Buzzer Melemahkan Pers, adalah Kekalahan Moral Media Mainstream

Ini laporan yang banyak dikutip beberapa media tentang fenomena buzzer di Indonesia. Ada yang sampai ngomong “melemahkan pers” segala.

Masalahnya: apakah isi laporan Oxford dimaksud benar-benar spesifik membahas tentang Indonesia? Atau cuma framing?

Dokumen bisa diunduh dari alamat berikut: comprop.oii.ox.ac.uk/wp-content/upl…

Dan akan sangat cukup jelas bahwa laporan di dalamnya adalah terkait manipulasi sosial media skala dunia. Siapa aktor-aktor terbesar? Russia dan China.

Bisa dibaca di bagian Executive Summary Laporan.

Bagaimana bisa laporan ini kemudian jadi referensi media membahas fenomena buzzer Indonesia? Entahlah. Lebih ajaib lagi kalau menyebut aktivitas buzzer ini melemahkan pers.

Di seisi laporan Oxford, kata “Indonesia” cuma muncul 12x, dan SELALU bersama negara-negara lain.

Secara total, dari 12x kata “Indonesia” muncul sebelas kali munculnya dalam tabel. Gambar berikut contoh pemunculan kata “Indonesia” dalam dokumen Oxford.

Jadi sama sekali tidak ada pembahasan spesifik mengenai negara Indonesia dalam bentuk satu chapter atau box.

Satu-satunya bagian dalam dokumen di mana kata Indonesia tidak disebut bentuk isi tabel, hanya di bagian ini.

Dan di bagian ini Indonesia di golongkan pada LOW cybertroop capacity. Kontras dengan yang Medium (contoh Filipina) atau High (contoh China dan Russia)

Dan lebih lanjut penggolongan Low Capacity Cybertroop di Indonesia karena sifat non permanen dan “amatiran”.

Disebut soal ukuran tim dan biaya Rp. 1 juta sampai Rp. 50 juta, tanpa ada referensi dan verifikasi angkanya dari mana.

Bandingkan dengan USD 2,8 JUTA di Nigeria.

Bandingkan dengan negara-negara kelas Medium ini. Jumlah pasukan sampai puluhan ribu orang (Ukraina) atau budget sampai jutaan dollar (Bahrain dan Inggris).

Menurut laporan Oxford ini sih Cybertroop Indonesia masih skala UMR atau sedikit di atas garis kemiskinan.

Gimana di skala Besar? Semuanya punya komponen berstatus Permanent.

Kita akan ketemu Cybertroop ukuran hingga 2 Juta orang (China), Vietnam punya 10 ribu orang, atau Israel dengan pasukan elite 400 orang dan budget skala USD 100 Juta.

Ada Myanmar juga yang dilatih di Russia.

Maka gue heran kalau laporan Oxford 26 halaman ini yang nggak spesifik membahas Indonesia (ataupun kalau dibahas ternyata cuma level ayam sayur) jadi rujukan soal fenomena buzzer.

Seolah-olah mengerikan sampai membuat pers konvensional takut terkencing-kencing.

Kok bilang begitu? Karena kenyataannya pers konvensional rame-rame menulis soal Laporan Oxford ini dan mengarahkan ke soal buzzer, padahal isi laporan asli tidak ada membahas spesifik Indonesia.

Ini wartawan pada nulis pake baca dulu laporan atau nggak sih?

Kalau soal ancaman terhadap Pers, tanpa buzzer pun masalah pers kita sudah jelas: suka bikin tulisan clickbait, doyan sensasi kosong, atau bikin berita hasil recycling dari posting di sosmed.

Hal-hal seperti itu yang secara konsisten membunuh kredibilitas pers Indonesia.

Gambaran pers online di Indonesia…
Dari kompas dan detik isi beritanya bisa sebangun dengan eramuslim.

Menyedihkan.

Melihat komentar dan retweet yang terjadi berikut – siapa di sini yang sedang jadi buzzer?
Baca Juga :  Wasekjen Gerindra: Saya Tak Menuduh Pendukung Pak Prabowo 'Buzzer'