Dari Pringgasela untuk Dunia: Evolusi Tenun Tradisional Menjadi Penggerak Ekonomi Kreatif NTB

B

Bambang GS

Jul 26, 2026 · 15 hours ago

Dari Pringgasela untuk Dunia: Evolusi Tenun Tradisional Menjadi Penggerak Ekonomi Kreatif NTB

Selong (Visualnews) — Di banyak tempat, sehelai kain mungkin berhenti sekadar sebagai komoditas atau penutup tubuh. Namun di Pringgasela, Lombok Timur, lembaran kain tenun tumbuh menjadi identitas, peradaban pengetahuan, sekaligus benteng harapan masa depan.

​Semangat itu terpancar nyata dalam ajang Karnaval Tenun Night Show "Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa, dan Aroma)" yang digelar megah di Tugu Mopra Pringgasela, Sabtu (25/7/2026).

Melalui helatan ini, masyarakat tidak sekadar merayakan estetika motif, tetapi juga menyuarakan pesan tegas, warisan budaya hanya akan terus bernapas jika dirawat, didorong beradaptasi, dan diwariskan ke tangan generasi penerus.

​Malam itu, denting ritmis kayu alat tenun (kemban) tak lagi terdengar sebagai bunyi perkakas biasa. Suara itu bertransformasi menjadi bahasa kebudayaan yang menjembatani imajinasi masa lalu dengan cita-cita masa depan.

Helai demi helai benang yang dirajut jemari jemari terampil para penenun menjadi simbol ketekunan sebuah komunitas dalam merawat ingatan kolektif di tengah derasnya arus modernisasi.

​Penyelenggaraan festival Alunan Budaya yang kini menginjak dekade pertamanya menjadi bukti sah bahwa Pringgasela tak sekadar bertahan. Desa ini berhasil menjadikan tenun sebagai ruang dialog yang hidup antara tradisi leluhur dan kreativitas era modern.

Pengusungan tema "The Evolution of Heritage" mempertegas filosofi bahwa kebudayaan bukanlah barang antik mati yang membeku di balik etalase kaca, melainkan nilai kontekstual yang terus mekar mengikuti zaman tanpa kehilangan akarnya.

​Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda NTB, Sinta Aghatia M. Iqbal, hadir langsung didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhammad Ihwan, S.Sos., M.Si.

Dalam arahannya, ia menekankan bahwa Pemerintah Provinsi NTB memposisikan kebudayaan bukan sebagai pemanis atau pelengkap pembangunan semata, melainkan fondasi utama pembentuk karakter dan penggerak kesejahteraan masyarakat.

​Dalam visi besar NTB Makmur Mendunia, kebudayaan ditempatkan sebagai pilar strategis yang menggerakkan roda ekonomi kreatif, memperkaya iklim pendidikan, memperkuat diplomasi budaya, hingga memikat daya tarik pariwisata global.

Dari kacamata ini, tenun Pringgasela adalah karya pengetahuan yang bertransformasi menjadi modalitas identitas NTB di panggung internasional.

​Bagi Pemerintah Provinsi NTB, tantangan pelestarian masa kini bukan lagi mempertentangkan tradisi dengan modernitas, melainkan menyatukan keduanya dalam harmoni yang saling menguatkan.

Tradisi diibaratkan sebagai akar yang menancap kuat, sementara inovasi adalah dahan dan daun yang mekar menjangkau masa depan.

​Komitmen tersebut diwujudkan nyata melalui penyusunan Haluan Pemajuan Kebudayaan Daerah, penguatan museum, revitalisasi Taman Budaya, perlindungan objek pemajuan kebudayaan, serta kolaborasi lintas sektor bersama akademisi, komunitas kreatif, dan pemerintah daerah.

​Pringgasela telah membuktikan bahwa kemajuan zaman tak harus mengikis jejak sejarah. Dari desa kecil di kaki Rinjani ini, lahir pelajaran berharga bahwa tradisi mampu menjadi mata air inovasi dan kebanggaan ekonomi jika dikelola secara lestari.

​Saat seorang penenun menggerakkan jemarinya, ia tidak sekadar menenun motif kain. Ia sedang merajut memori para leluhur dengan mimpi anak cucunya.

Ketika para model melangkah di panggung Srimananti, yang terpancar bukan hanya keindahan ragam hias kain, melainkan ketangguhan sebuah kebudayaan yang terus menemukan makna barunya di setiap era.

​Dari Pringgasela, Nusa Tenggara Barat mengirimkan pesan mendalam kepada dunia, kemajuan sejati tidak diraih dengan meninggalkan akar sejarah, melainkan dengan merawatnya, menumbuhkannya, dan memperkenalkannya dengan bangga ke hadapan peradaban dunia. (V-02)