Giri Menang (Visualnews) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) berkomitmen penuh untuk mengubah hasil riset daerah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Langkah strategis ini ditegaskan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi NTB yang berlangsung di Aula Rapat Utama BRIDA NTB, Lombok Barat, Selasa (7/7/2026).
Kegiatan Monev yang melibatkan jajaran fungsional dan Kelompok Kerja (Pokja) ini dipimpin langsung oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTB, H. Lalu Moh. Faozal, S.Sos., M.Si.
Dalam arahannya, H. Lalu Moh. Faozal menekankan bahwa hilirisasi hasil riset kini menjadi prioritas utama. Inovasi yang dihasilkan oleh para peneliti tidak boleh hanya berakhir sebagai dokumen di dalam laci, melainkan harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan mendongkrak daya saing ekonomi NTB.
Sebagai langkah konkret, Pemprov NTB membidik tiga riset strategis yang akan segera diimplementasikan dalam waktu dekat, yaitu kultur jaringan bibit kurma melalui pengembangan bibit unggul lokal untuk mendukung sektor pertanian modern.
Berikutnya teknologi biodigester berbasis IoT, yakni penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengoptimalkan pengolahan sampah organik menjadi energi atau pupuk.
Selanjutnya komersialisasi Nira Aren, untuk mengangkat potensi lokal dengan menyulap Nira Aren menjadi produk premium yang bernilai jual tinggi di pasar luas.
"Selain hilirisasi produk, pertemuan ini juga menyepakati penyusunan rekomendasi kebijakan (policy brief) berbasis data. Ini penting untuk mendukung ekosistem ekonomi hijau dan perdagangan karbon (carbon trading) yang sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB," ujar Faozal.
Menanggapi arahan tersebut, Kepala BRIDA Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, S.Sos., M.H., menegaskan kesiapan dan dedikasi penuh lembaganya untuk mengawal arah kebijakan baru ini. Menurutnya, riset yang tepat sasaran adalah kunci penyelesaian masalah daerah.
"BRIDA terus berkomitmen memperkuat riset dan inovasi daerah yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," tegas Aryadi.
Untuk membangun ekosistem inovasi yang berkesinambungan, BRIDA NTB juga telah merancang sejumlah langkah taktis, di antaranya memperkuat kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait pendanaan riset, pengembangan startup lokal, serta optimalisasi Rumah Inovasi Daerah (RID).
Kemudian menjawab kendala belum optimalnya jumlah Jabatan Fungsional Peneliti dan Perekayasa, Pemprov NTB akan mempercepat koordinasi lintas instansi dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan Biro Organisasi.
"Selain itu, juga mengoptimalkan kolaborasi strategis dengan berbagai perguruan tinggi serta dunia usaha, demi menjembatani riset akademis dengan kebutuhan industri," jelas Aryadi.
Melalui langkah integratif ini, sambung Aryadi, BRIDA NTB diharapkan mampu menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi berbasis lingkungan (green economy) yang inklusif di NTB. (V-02)