Manggarai Timur (Visualnews) — Isak tangis haru mengiringi kepulangan Tim Solidaritas Kemanusiaan KR-BNN Nusa Tenggara Barat (NTB) dari Dampek, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat malam (28/8).
Setelah dua pekan bahu-membahu mendampingi ribuan pengungsi korban gempa M7,7 NTT, para relawan berpamitan dalam suasana yang begitu emosional.
Tak hanya ibu-ibu dan anak-anak, para pria dewasa, termasuk para suami yang menyaksikan istrinya dibantu bersalin di tengah derita bencana, turut meneteskan air mata.
Kehadiran relawan NTB sejak 17 Agustus lalu bukan lagi sekadar penyalur bantuan, melainkan telah menjadi bagian dari keluarga yang membalut luka mereka.
“Di saat kami sangat membutuhkan bantuan dan dukungan, hadir saudara-saudara kami dari Nusa Tenggara Barat,” ujar Camat Lamba Leda Utara, Emilianus Harjonit.
Bencana gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang pada 15 Agustus 2026 tersebut menewaskan 14 jiwa di Lamba Leda Utara dan merusak hingga 90 persen pemukiman di Desa Satar Padut.
Hanya butuh dua jam setelah gempa, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal) menginstruksikan penerjunan tim terpadu.
Membawa kenangan empati atas gempa Lombok 2018, NTB mengerahkan aksi kemanusiaan berskala besar.
Sebanyak 89 tenaga medis (dokter, perawat, psikolog, hingga bidan) telah melayani lebih dari 4.000 warga terdampak. Kemudian 25 personel dapur umum menyiapkan makanan untuk 3.000 jiwa sebanyak tiga kali sehari, merambah hingga ke pelosok perbukitan seperti Kampung Maki. Termasuk 15 personel bergerak memastikan bantuan menjangkau titik-titik pengungsian mandiri yang sulit diakses.
Meskipun personel relawan harus kembali ke NTB, misi kemanusiaan tidak lantas terputus. Atas arahan Gubernur Miq Iqbal, seluruh sarana operasional tanggap darurat dihibahkan penuh untuk warga dan Pemcam Lamba Leda Utara.
Tenda pengungsian, fasilitas kesehatan lapangan, peralatan dapur umum, genset, lampu penerangan, hingga kendaraan roda tiga ditinggalkan agar dapat terus digunakan masyarakat dalam masa pemulihan. Tiga dapur umum mandiri juga telah dibentuk di Desa Satar Kampas, Satar Padut, dan Golo Mangung untuk dikelola secara swadaya oleh warga.
NTB datang membawa pertolongan, bekerja bersama masyarakat, lalu pulang membawa doa. Jarak antarpulau kini kembali terbentang, namun ikatan persaudaraan yang lahir dari masa-masa sulit bencana ini dipastikan akan tinggal selamanya. (V-02)