Jakarta (Visualnews) – PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangkitan (UIK) Dwipantara memperkuat upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Circular Waste Initiative di Taman Aries, Meruya Utara, Jakarta Barat. Upaya tersebut dilakukan dengan pemberian bantuan renovasi bangunan dan penyediaan peralatan bank sampah sekaligus sosialisasi pengolahan sampah bersama Bank Sampah A-Green Meruya Utara, Kamis (27/8).

Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi PLN, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, dan masyarakat dalam mendorong pengelolaan sampah dari sumber serta pengembangan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Plt. Asisten Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup Jakarta Barat, Depika Romadi memberikan apresiasi kepada PLN atas dukungannya dalam mendukung pengelolaan sampah masyarakat di wilayahnya melalui pengembangan Bank Sampah.
“Atas nama Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan terima kasih kepada PLN UIK Dwipantara. Komitmen PLN melalui PLN Peduli tidak hanya berfokus pada penerangan negeri, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat local,” ucap Depika.
General Manager PLN UIK Dwipantara, Rita Triani mengatakan bahwa program PLN Circular Waste Initiative dirancang untuk memperkuat gerakan lingkungan yang sebelumnya telah tumbuh di tengah masyarakat. Menurut Rita, Komunitas A-Green telah menunjukkan konsistensi dalam membangun kepedulian lingkungan sejak 2017 melalui berbagai kegiatan, mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga, bank sampah, urban farming, penghijauan, edukasi lingkungan, hingga penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle.
“Apa yang telah dilakukan A-Green menunjukkan bahwa perubahan besar bagi lingkungan dapat dimulai dari rumah dan dari kebiasaan sederhana masyarakat. Kekuatan utamanya bukan hanya pada fasilitas, tetapi pada partisipasi, kepedulian, dan semangat gotong royong warganya,” ujar Rita.
Rita menjelaskan, melalui PLN Circular Waste Initiative, PLN ingin mengambil peran sebagai mitra yang memperkuat ekosistem yang telah dibangun masyarakat bersama pemerintah daerah. Program tersebut tidak hanya memberikan dukungan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, tetapi juga mencakup edukasi serta peningkatan kapasitas masyarakat. Kegiatannya antara lain pelatihan pemilahan sampah dari sumber, pengolahan kompos, pembuatan eco enzyme dan ecobrick, penguatan tata kelola Bank Sampah, budidaya maggot, hingga pengembangan daur ulang kreatif.
“Program ini bukan sekadar penyerahan bantuan. Yang ingin kami bangun adalah kolaborasi antara PLN, pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan agar terbentuk sistem pengelolaan sampah yang semakin mandiri, produktif, dan berkelanjutan,” kata Rita.
Melalui penguatan tersebut, sampah yang sebelumnya dipandang sebagai limbah diharapkan dapat masuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun produk turunannya, sementara sampah anorganik dapat dipilah dan dikelola melalui Bank Sampah sehingga memiliki nilai ekonomi.

Rita menambahkan, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari berkurangnya volume sampah dan semakin bersihnya lingkungan. PLN berharap program tersebut turut membentuk perubahan perilaku masyarakat, meningkatkan partisipasi warga, memperkuat kelembagaan Bank Sampah A-Green, sekaligus menciptakan nilai sosial dan ekonomi dari pengelolaan sampah.
“Kami ingin semakin banyak keluarga terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Ketika sampah dikelola dengan benar, yang sebelumnya menjadi persoalan dapat berubah menjadi sesuatu yang memberikan nilai bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, PLN juga mendorong pemanfaatan teknologi berbasis listrik untuk mendukung pengelolaan sampah yang semakin modern dan produktif, seperti penggunaan mesin pencacah, serta sistem pencatatan dan monitoring secara digital.
Program PLN Circular Waste Initiative turut mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
“Kami berharap praktik baik yang dibangun bersama di Meruya Utara dapat terus berkembang dan menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lainnya. Dari satu lingkungan, satu RW, kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas untuk kota yang semakin bersih, hijau, dan berkelanjutan,” tutup Rita.(V-01)