Mataram (Visualnews) — Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan performa impresif sepanjang pertengahan tahun 2026.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, sejumlah indikator strategis daerah menunjukkan tren positif, mulai dari lonjakan ekspor yang signifikan, stabilitas harga pangan, hingga geliat sektor pariwisata dan transportasi.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., mengungkapkan bahwa lompatan paling menonjol terjadi pada kinerja perdagangan luar negeri selama semester pertama 2026.
BPS mencatat nilai ekspor NTB periode Januari–Juni 2026 mencapai US$ 1,35 miliar. Angka ini melonjak tajam hingga 561,24 persen jika dibandingkan dengan semester pertama tahun 2025.
"Ekspor NTB masih didominasi komoditas tembaga hasil industri pengolahan, disusul perhiasan/permata, serta produk perikanan seperti ikan dan udang," ujar Wahyudin dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di Mataram.
Adapun komoditas unggulan tersebut diserap oleh pasar internasional, dengan negara tujuan utama meliputi Thailand, Korea Selatan, Hong Kong, Tiongkok, hingga Amerika Serikat.
Demikian sektor pariwisata dan transportasi turut menyumbang angin segar bagi perekonomian daerah.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juni 2026 menyentuh 44,86 persen (naik 3,80 poin secara bulanan). Total tamu menginap mencapai 122.516 orang, yang terdiri dari 77.213 wisatawan domestik dan 45.303 wisatawan mancanegara.
Wisatawan Nusantara, jumlah pergerakan mencapai 1.368.707 orang (tumbuh 5,71% YoY), didorong oleh momen libur sekolah serta kepulangan jemaah haji.
Penumpang pesawat domestik yang datang naik 4,76% (107.399 orang). Sementara penumpang internasional melonjak pesat 30,98 persen, didominasi kedatangan dari Jeddah dan Madinah.
Transportasi laut, kedatangan penumpang kapal laut meningkat 8,66% dan keberangkatan tumbuh 6,38%.
Di sektor harga dan pasokan pangan, BPS mencatat inflasi tahunan (year on year) NTB pada Juli 2026 berada di level 3,01 persen. Secara bulanan (month to month), NTB mengalami deflasi 0,35 persen.
Deflasi ini dipicu oleh melimpahnya pasokan komoditas hortikultura akibat musim panen raya, sehingga harga cabai rawit, bawang merah, tomat, dan cabai merah melandai. Penurunan harga ini menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.
Di sisi lain, meski Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2026 terkoreksi 2,38 persen akibat penurunan harga hortikultura tersebut, posisi NTP NTB masih sangat kuat di angka 127,83 atau jauh di atas batas ambang impas (100). Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas usaha tani di NTB secara umum tetap menguntungkan.
Secara menyeluruh, kombinasi antara melesatnya ekspor, hidupnya sektor pariwisata, dan terjaganya inflasi menunjukkan bahwa fondasi perekonomian NTB berada dalam kondisi yang tangguh di tengah dinamika ekonomi global. (V-02)