El Nino Kuat Intai Indonesia, 80 Persen Wilayah Bakal Kering Kerontang!

B

Bambang GS

Jul 03, 2026 · 2 days ago

El Nino Kuat Intai Indonesia, 80 Persen Wilayah Bakal Kering Kerontang!
Foto udara kawasan persawahan yang mengering di wilayah Lombok Timur, NTB, Rabu (12/6/2024).VNEWSFOTO/Cia

Jakarta (Visualnews) — Pemerintah Indonesia melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Komunikasi Pemerintah RI meminta seluruh masyarakat untuk bersiap. Puncak musim kemarau ekstrem tahun ini diprediksi akan jauh lebih kering akibat hantaman fenomena anomali iklim El Nino yang terus menguat.

Hingga pertengahan Juni lalu, BMKG mencatat sekitar 37,6 persen Zona Musim (ZOM) di tanah air sudah resmi masuk musim kemarau. Tak hanya itu, hampir separuh wilayah Indonesia (47,16%) kini mulai merasakan dampak curah hujan yang berada di bawah normal.

Kondisi ini diprediksi akan semakin parah dalam beberapa bulan ke depan. "Pada periode Juli hingga Oktober nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Puncak musim kemarau sendiri diproyeksikan terjadi pada bulan Juli hingga September," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam keterangan resminya.

​Ardhasena menjelaskan, menguatnya intensitas El Nino kali ini berdampak langsung pada pemangkasan volume curah hujan secara drastis di sebagian besar wilayah nusantara. Efek dominonya, kemarau tahun ini tidak hanya terasa lebih menyengat, tetapi juga memiliki durasi yang jauh lebih panjang dari biasanya.

Menyikapi ancaman kekeringan nyata ini, BMKG mengimbau masyarakat luas untuk segera melakukan langkah antisipasi mandiri secara dini, menyesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Ancaman serius juga mengintai stabilitas ketahanan pangan nasional. BMKG memberikan perhatian khusus pada sektor pertanian agar para petani tidak terjebak dalam risiko gagal panen akibat krisis air.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BMKG merekomendasikan tiga langkah strategis bagi para pelaku pertanian, yaitu menyesuaikan jadwal tanam dengan cermat, mengoptimalkan varietas tanaman yang tahan kering dan berumur genjah (cepat panen), dan melakukan diversifikasi (keanekaragaman) tanaman pangan agar tidak bergantung pada satu jenis komoditas.

Guna memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang valid di tengah situasi ini, BMKG menegaskan komitmennya untuk terus memantau dinamika iklim global dan regional. Informasi prediksi iklim terbaru akan terus diperbarui dan dipublikasikan setiap 10 hari sekali. (V-02)