Giri Menang (Visualnews) — Siapa sangka, aktivitas keseharian warga desa di Lombok Barat, kini bisa menjelma jadi komoditas pariwisata berkelas dunia.
Lewat konsep green tourism berbasis sepeda, Desa Mambalan dan Desa Kekeri sukses menyedot perhatian wisatawan mancanegara (Wisman), sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Melalui program paket wisata bertajuk "A Walk Through Mambalan", desa yang dulunya hanya pemukiman tenang, kini rutin disinggahi ratusan wisatawan asing dari kapal-kapal pesiar megah yang berlabuh di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat.
Alih-alih memilih tur bus mewah, para turis justru lebih terikat pada pengalaman menjelajahi gang-gang desa dan pematang sawah dengan mengayuh sepeda.
Kepala Desa Mambalan, Sayid Abdollah Alkaff, atau yang akrab disapa Apink Alkaff, menilai tren ini menjadi bukti bahwa pariwisata berbasis masyarakat (community based tourism) punya daya saing tinggi.
"Sepertinya wisata pedesaan berbasis masyarakat menjadi salah satu alasan utama wisatawan asing datang ke daerah kami," kata Apink saat dijumpai, Jumat (31/7/2026).
Dampak positif dari populernya rute cross country Mambalan – Kekeri – Pura Lingsar ini juga melahirkan ceruk pasar (niche market) baru. Uniknya, daya tarik alam yang asri ini justru paling banyak diminati oleh wisatawan usia senior (lansia) dan keluarga lintas negara.
"Seperti rombongan yang datang hari ini, ada tiga grup dari negara berbeda. Ada kelompok lansia dari Belanda, serta rombongan keluarga asal Spanyol dan Jerman," jelas Apink.
Bagi mereka, bersepeda melintasi desa bukan sekadar olahraga ringan, melainkan cara berinteraksi langsung dengan kearifan lokal tanpa merusak lingkungan setempat.
Bagi para pemandu wisata (tour guide), rute pedesaan ini adalah "sekolah terbuka" bagi para turis. Salah satu titik paling sibuk adalah jembatan gantung yang menghubungkan Desa Mambalan dan Desa Kekeri.
Di spot ini, para turis tidak hanya berhenti untuk berfoto, tetapi juga mendapatkan edukasi budaya langsung dari pemandu, salah satunya tentang tradisi pemakaman umum warga lokal sebelum melanjutkan perjalanan menuju hamparan hijau persawahan.
"Kami memang sering membawa tamu asing melintasi jalur ini. Jembatan gantung ini punya daya tarik tersendiri yang selalu disukai wisatawan," ungkap Toni, pemandu wisata sepeda asal Senggigi.
Kombinasi antara keasrian alam dan kehangatan warga lokal terbukti memberikan kesan mendalam. Riska, seorang wisatawan asal Belanda yang memboyong suami dan kerabatnya, mengaku terpesona dengan rute ini.
"Saya sangat menikmati bersepeda di daerah ini. Pemandangannya sangat indah," ujar Riska.
Keberhasilan Desa Mambalan membuktikan, bahwa pariwisata di pulau Lombok tidak hanya bergantung pada keindahan pantai saja, tetapi juga pada potensi desa-desa yang mampu menjaga keasrian alam dan kebudayaannya. (V-02)