KONEKSI Perkuat Riset Inklusif dan Jejaring GEDSI melalui Gender Equity Leadership Program

V

Visualnews

Oct 04, 2026 · 2 jam yang lalu

KONEKSI Perkuat Riset Inklusif dan Jejaring GEDSI melalui Gender Equity Leadership Program

Jakarta (Visualnews) – Perspektif kelompok terpinggirkan, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas utamanya di kawasan Timur Indonesia, seringkali masih luput dalam proses riset. Hal ini membuat kebutuhan dan pengalaman mereka belum sepenuhnya tercermin dalam pengetahuan yang menjadi dasar pengambilan keputusan. Sementara itu, kesetaraan gender menjadi salah satu poin yang turut didorong oleh pemerintah dalam Asta Cita sebagai misi keempat.

Antara lain meningkatkan peran perempuan, pemuda, penyandang disabilitas dalam berbagai sektor pembangunan. Sejalan dengan upaya pemerintah, KONEKSI, kemitraan Australia–Indonesia di bidang pengetahuan dan inovasi,

berupaya mengisi ruang tersebut dengan mendorong penerapan perspektif gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI)

dalam riset dan inovasi melalui Gender Equity Leadership Program (GELP).

Direktur Manajemen Talenta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ajeng Arum Sari menyampaikan apresiasinya terhadap GELP Symposium yang sejalan dengan semangat kemitraan Australia–Indonesia melalui KONEKSI. “Bagi

saya, simposium ini merupakan ruang penting karena mempertemukan tiga hal yang erat kaitannya dengan pengembangan talenta di bidang riset dan inovasi, yaitu pengetahuan, kepemimpinan, dan perubahan. Tantangan

pembangunan yang kompleks tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin atau satu perspektif saja. Kita membutuhkan kolaborasi, keterbukaan, dan pengakuan bahwa pengalaman yang berbeda dapat melahirkan wawasan serta solusi yang lebih relevan. Maka itu, integrasi Gender Equality, Disability, and Social Inclusion atau GEDSI menjadi penting. GEDSI

bukan hanya berkaitan dengan inklusivitas sebagai nilai, tetapi juga berhubungan dengan kualitas dan relevansi pengetahuan yang kita hasilkan,” ujar Ajeng.

Program GELP ini berlangsung dalam empat tahap mulai April lalu yang diawali dengan pelatihan terkait prinsip kepemimpinan feminis, menyertakan refleksi atas pengalaman peserta, serta memberikan pemahaman akan bagaimana kerangka riset yang sensitif gender dan inklusivitas dilakukan. Peserta juga diajak berdinamika dalam pembelajaran

melalui diskusi dan lokakarya secara daring, yang didampingi oleh para mentor. Dalam proses ini, peserta juga saling memberikan dukungan, serta mengembangkan kepemimpinan di sektor pengetahuan Rangkaian ini kemudian ditutup melalui GELP Symposium pada 28–30 September 2026 di Jakarta, yang

mempertemukan 29 peneliti Indonesia meliputi 23 peneliti perempuan dan enam laki-laki. Dalam simposium ini, dua perempuan yang sedang menyusui, tujuh penyandang disabilitas, dan tujuh peserta dari Indonesia Timur, mendapatkan akomodasi yang layak agar dapat berpartisipasi secara bermakna. Adapun kegiatan ini juga memperlihatkan poster dari

masing-masing penelitian dengan lima tema antara lain anak dan pemuda; caregiver dan kesehatan; kelompok marjinal;

pesisir; serta pangan dan energi.

Tak hanya itu, pada kegiatan simposium ini, KONEKSI turut meluncurkan Gender Equality Network (GEN) sebagai

jejaring di sektor pengetahuan untuk mempertemukan peneliti dan praktisi demi memperkuat perspektif kesetaraan

gender dalam pengetahuan, pembangunan, dan inovasi. Dalam simposium ini, dua perempuan yang sedang menyusui,

tujuh penyandang disabilitas, dan tujuh peserta dari Indonesia Timur, mendapatkan akomodasi yang layak agar dapat berpartisipasi secara bermakna.

Riset Sargassum Dorong Produk Bernilai Tambah bagi Masyarakat Pesisir

Mengusung semangat yang sama dengan Hari Pangan Sedunia 2026, yaitu “Innovate Today, Nourish Tomorrow”, isu ketersediaan pangan dan pemanfaatan sumber daya lokal menjadi salah satu perhatian. Semangat tersebut menekankan

pentingnya mencari solusi inovatif untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus memanfaatkan potensi yang tersedia di tengah masyarakat. Hal tersebut terejawantahkan melalui penelitian bertajuk “Sustainable Biomaterials from

Macroalgae: A Dual Approach to Food Security and Ocean Health” yang dipimpin oleh Athanasia Amanda Septevani

(BRIN), berkolaborasi dengan The University of Queensland. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan berbasis rumput laut untuk ketahanan pangan, kesehatan laut, dan partisipasi inklusif, mengingat kelompok perempuan dan penyandang disabilitas menjadi kunci dalam meningkatkan

sektor pangan yang memberikan dampak pula terhadap kesejahteraan keluarga. Maka dari itu, melalui GELP, penelitian

ini mendapatkan masukan untuk memberikan ruang bagi perempuan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan penelitian, karena perempuan memiliki pengetahuan mengenai desain teknologi dan produk turunan dari sargassum.

Penelitian tersebut melihat potensi rumput laut Sargassum yang melimpah di wilayah pesisir Kabupaten Gunungkidul,

Provinsi DIY untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan. Sebagai wilayah yang pesisirnya didominasi pantai berbatu, Gunungkidul menjadi habitat sesuai untuk tumbuhnya Sargassum. Namun, pemanfaatan rumput laut cokelat ini masih terbatas oleh masyarakat, antara lain

untuk pangan, pupuk organik, atau dijual dalam bentuk mentah. Kondisi tersebut membuka peluang untuk pengolahan Sargassum, sebagai bahan yang bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat. Lebih dari 50 peserta komunitas

pesisir, khususnya perempuan, terlibat dalam pengolahan cairan hasil perasan Sargassum ini menjadi bahan baku ekoenzim antibakteri.

“Dengan melihat sumber daya yang tersedia di Gunungkidul, penelitian ini melihat bagaimana cairan hasil perasan Sargassum yang sebelumnya hanya dibuang saja dan belum dimanfaatkan, dapat diolah sebagai bahan baku ekoenzim

antibakteri. Karena itu, kami melibatkan komunitas sejak prosesnya, termasuk perempuan yang sehari-hari tinggal dan

beraktivitas di wilayah pesisir. Dari situ kami bisa belajar apa yang mereka butuhkan dan menyesuaikan pengembangan

teknologi agar lebih dekat dengan kondisi di lapangan,” ujar Amanda.

Bagi masyarakat yang terlibat, proses tersebut membuka pemahaman baru mengenai potensi Sargassum, “Sebelumnya

kami belum tahu kalau cairan hasil perasan Sargassum juga bisa dimanfaatkan. Setelah mengikuti lokakarya, kami jadi

tahu bagaimana prosesnya dan bisa langsung mencoba. Ternyata dari bahan yang ada di sekitar kita, ada yang bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang punya manfaat,” ujar perwakilan komunitas pesisir Kepala Dukuh Dunggubah I Gunungkidul Aji Surya Utama.

Ke depan, tim peneliti akan mengembangkan pengelolaan ekoenzim lebih lanjut yang berpotensi digunakan sebagai

smart packaging pangan antibakteri. Selain itu, tim peneliti juga akan mengembangkan sistem indikator kesegaran pangan berbasis perubahan pH. Komponen Sargassum yang dimanfaatkan ini dapat memberikan tanda visual ketika

terjadi perubahan kualitas produk pangan. Berbagai pengembangan tersebut akan diarahkan untuk memperluas pemanfaatan Sargassum sebagai sumber biomaterial dan teknologi yang mendukung keamanan pangan, sekaligus berkontribusi pada pemantauan dan perlindungan kesehatan ekosistem laut.(V-01)