Mataram (Visualnews) – Iklim investasi di Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren positif dan daya tahan yang kuat. Hingga Semester I Tahun 2026, realisasi investasi di NTB telah mencapai Rp33,73 triliun. Angka ini setara dengan 51,26 persen dari total target tahunan sebesar Rp64 triliun yang ditetapkan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Capaian ini tergolong melesat tajam jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Semester I-2025, realisasi investasi daerah bahkan belum menyentuh seperempat dari target.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB, H. Irnadi Kusuma, mengungkapkan optimismenya saat press release di Bale Kita Mataram, Kamis (6/8/2026).
"Tahun lalu dengan target lebih rendah, capaian Semester I belum sampai 25 persen. Tahun ini, meski target dinaikkan menjadi Rp64 triliun, realisasi kita sudah menembus lebih dari 51 persen. Ini sinyal yang sangat positif bagi perekonomian NTB," tegas Irnadi.
Salah satu penopang utama lonjakan investasi ini datang dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Realisasi investasi UMKM pada Semester I-2026 tercatat mencapai Rp496,68 miliar, naik 22,28 persen dibandingkan periode sama tahun 2025 (Rp406,19 miliar).
Irnadi mengulas pengalaman akhir tahun 2025, di mana kontribusi UMKM senilai lebih dari Rp600 miliar berhasil menyelamatkan capaian investasi NTB hingga menembus angka 100,2 persen saat sistem Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) perusahaan besar tutup lebih awal.
"Pengalaman tersebut membuktikan UMKM adalah kunci. Pemprov NTB terus berkomitmen memberikan kemudahan perizinan via OSS-RBA, pendampingan, hingga akses pembiayaan agar investasi UMKM mampu menembus target Rp1 triliun pada akhir tahun 2026," lanjutnya.
Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Sinta M. Iqbal, turut mengapresiasi daya tahan para pelaku usaha lokal ini.
"UMKM adalah pahlawan ekonomi yang bekerja di balik layar. Mereka terus berinovasi dan bertahan di tengah keterbatasan. Dekranasda bersama dinas terkait fokus memperkuat pembinaan, kurasi produk melalui Gerai Balekita, hingga mendorong UMKM NTB berorientasi ekspor ke negara seperti Jepang dan Arab Saudi," ujar Sinta.
Dari total realisasi non-UMKM pada Triwulan II-2026, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi secara signifikan dengan porsi 81,85 persen (Rp12,14 triliun). Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 18,15 persen (Rp2,7 triliun) yang dipimpin oleh investor asal Spanyol dan Australia.
Dominasi investor domestik di sektor pertambangan, pertanian, dan perdagangan ini dinilai positif karena menjaga perputaran uang dan nilai tambah ekonomi tetap berada di dalam daerah.
Secara geografis, distribusi investasi terbesar di NTB dipimpin oleh Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), menyumbang lebih dari Rp11 triliun, didominasi oleh sektor pertambangan.
Kemudian Kabupaten Dompu, yang menunjukkan lonjakan tren investasi yang signifikan, dan Kabupaten Lombok Tengah, yang disokong oleh pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, pariwisata, dan infrastruktur.
Sisa realisasi investasi tersebar di sektor industri, perdagangan, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), hingga Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Dengan pertumbuhan ekonomi NTB yang tetap berada di atas rata-rata nasional, Pemprov NTB optimistis dapat menuntaskan target investasi Rp64 triliun hingga akhir tahun 2026 melalui kolaborasi lintas sektor dan keterbukaan iklim usaha. (V-02)