Ekonomi RI Tetap 'Seksi' di Mata Dunia: S&P Pertahankan Peringkat Kredit BBB dengan Outlook Stabil

B

Bambang GS

Jul 14, 2026 · 5 days ago

Ekonomi RI Tetap 'Seksi' di Mata Dunia: S&P Pertahankan Peringkat Kredit BBB dengan Outlook Stabil

Jakarta (Visualnews) — Di tengah badai ketidakpastian ekonomi global yang terus bergejolak, fundamental ekonomi Indonesia terbukti tetap tangguh dan mendapat kepercayaan penuh dari pasar internasional.

​Lembaga pemeringkat kredit terkemuka dunia, Standard & Poor's (S&P) Global Ratings, resmi mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Republik Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, lengkap dengan outlook stabil.

​Afirmasi ini menjadi sinyal kuat bahwa disiplin fiskal, stabilitas makroekonomi, dan arah kebijakan Indonesia dinilai sangat kredibel dan mampu bertahan di tengah berbagai tantangan eksternal.

​Keputusan S&P ini dinilai sebagai angin segar, khususnya bagi stabilitas pasar keuangan domestik.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, mengungkapkan bahwa bertahannya status investment grade ini memberikan pesan penenang bagi para pelaku pasar.

​"Di tengah tekanan fiskal, volatilitas nilai tukar, dan dinamika global yang tidak ringan, keputusan S&P ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia masih sangat terjaga. Ini adalah sentimen positif yang krusial untuk menjaga persepsi risiko Indonesia di mata investor asing," ujar David.

​Menurut David, S&P melihat prospek stabil Indonesia ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu ekspektasi pemulihan penerimaan negara yang berkelanjutan, perbaikan kinerja ekspor seiring membaiknya harga komoditas global, serta komitmen kuat pemerintah dalam menjaga defisit anggaran di bawah batas aman 3% dari PDB.

​Namun, ia mengingatkan agar momentum ini tidak membuat pemerintah lengah. "Indonesia masih dipercaya, tetapi kepercayaan itu harus terus dibuktikan melalui komunikasi kebijakan yang transparan, konsisten, dan disiplin fiskal yang kredibel," tambahnya.

​Salah satu poin menarik yang disorot oleh S&P kali ini adalah reformasi tata kelola sektor sumber daya alam Indonesia, termasuk pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

​Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai masuknya DSI dalam radar penilaian S&P membuktikan bahwa lembaga internasional tersebut melihat potensi besar dari inovasi kelembagaan ini.

​"DSI tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai mekanisme konsolidasi ekspor, melainkan juga sebagai mesin penggerak penerimaan negara (revenue engine) baru. Ini berpotensi memperluas basis fiskal tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kenaikan tarif pajak maupun penambahan utang publik," jelas Fithra.

​Jika dikelola secara transparan, akuntabel, dan efisien, DSI diproyeksikan mampu meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), memperkuat cadangan devisa, serta memberikan ruang fiskal yang lebih longgar bagi proyek pembangunan nasional.

​Dalam laporan resminya, S&P membeberkan sejumlah data dan indikator kuat yang mendasari keputusan mereka mempertahankan peringkat kredit Indonesia:

​Pertumbuhan Ekonomi Tangguh, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5% per tahun dalam beberapa tahun ke depan. Pada triwulan I-2026, ekonomi RI bahkan mencatatkan pertumbuhan mengesankan sebesar 5,6% (yoy), didorong oleh akselerasi belanja pemerintah.

​Kinerja Fiskal yang Sehat, defisit anggaran konsisten dijaga di bawah 3% PDB. Selain itu, penerimaan negara melonjak 19% pada lima bulan pertama tahun 2026 berkat perbaikan administrasi perpajakan, kenaikan PPN, serta peningkatan royalti dari sektor komoditas.

​Kebijakan Moneter dan Sektor Keuangan Kuat: Independensi Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan inflasi dan menjaga fleksibilitas nilai tukar rupiah dinilai efektif meredam gejolak eksternal. Sistem perbankan nasional pun dinilai berada dalam kondisi yang sangat sehat.

​Melalui sinergi kebijakan fiskal yang disiplin dan inovasi struktural seperti DSI, Indonesia sukses membuktikan bahwa navigasi ekonominya berada di jalur yang tepat. Pengakuan dari S&P ini diharapkan semakin memperkokoh arus investasi masuk (capital inflow) guna mengakselerasi pembangunan nasional ke depan. (V-02)