Gubernur NTB Tawarkan Bali Jadi Destinasi Wisata Hijau Disokong Energi dari NTB-NTT

B

Bambang GS

Jul 15, 2026 · 14 hours ago

Gubernur NTB Tawarkan Bali Jadi Destinasi Wisata Hijau Disokong Energi dari NTB-NTT
PANELIS: Gunernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, Gubernur Bali, I Wayan Koster, dan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, berbincang santai usai menjadi panelis dalam forum yang diinisiasi IESR.

Denpasar (Visualnews) – Sebuah gagasan besar untuk merevolusi peta energi dan pariwisata di Indonesia Timur mencuat dalam ajang Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 di Bali, Selasa (14/7/2026).

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal), menawarkan konsep ambisius untuk menjadikan Bali sebagai destinasi wisata hijau (green tourism) kelas dunia yang ditenagai penuh oleh pasokan listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) dari NTB dan NTT.

​Ide strategis ini disampaikan Miq Iqbal saat menjadi panelis dalam forum yang diinisiasi oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) bertema "From Ambition to Action: Scaling the 100 GW Solar Frontier for National Energy Sovereignty".

Forum global ini mempertemukan pemerintah, investor, pelaku industri, hingga akademisi untuk mempercepat target energi surya nasional.

​Dalam sesi diskusi mengenai peran pemerintah daerah, Miq Iqbal menegaskan bahwa Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT (KRBNN) memiliki peluang emas untuk menjadi role model transisi energi bersih di tanah air.

​"Bayangkan Bali menjadi destinasi wisata yang benar-benar 100 persen hijau. Bali tidak perlu lagi membangun pembangkit listrik sendiri karena kebutuhan energinya dapat dipasok dari NTB dan NTT. Potensi energi surya di kedua provinsi kami sangat melimpah," ujar Miq Iqbal optimistis.

​Untuk merealisasikannya, Pemprov NTB mendorong pembangunan jaringan Super Grid yang menginterkoneksikan sistem kelistrikan tiga provinsi tersebut.

Jaringan raksasa ini diklaim akan membuat sistem kelistrikan kawasan menjadi jauh lebih andal dan memperkokoh ketahanan energi nasional.

​Bukan tanpa modal, NTB saat ini memiliki fondasi infrastruktur yang sangat kuat untuk menyuplai energi bersih, di antaranya 15 bendungan besar yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung (floating solar photovoltaic).

​Jika hanya memanfaatkan sekitar 20 persen saja dari luas genangan 15 bendungan besar tersebut untuk panel surya, NTB diperkirakan mampu memproduksi lebih dari 500 Megawatt (MW) listrik.

Bersama dengan potensi masif dari NTT, kedua provinsi ini diproyeksikan mampu menyuplai 5 hingga 7 Gigawatt (GW) listrik dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

​Sadar bahwa transisi energi membutuhkan sokongan dana yang tidak sedikit, Pemprov NTB meluncurkan inisiatif bernama NTB Capital. Program ini dirancang khusus sebagai jaminan (assurance) bagi para investor yang masuk ke Bumi Gora.

​Melalui NTB Capital, pemerintah daerah berkomitmen untuk mempercepat dan mempermudah proses perizinan investasi, serta menjadi jembatan fasilitasi untuk menyelesaikan isu-isu sosial di sekitar lokasi proyek.

​Selain kemudahan investasi, Miq Iqbal juga menyuarakan perlunya penyempurnaan regulasi di tingkat nasional. Salah satunya adalah desakan agar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) diberikan wewenang membangun sistem kelistrikan mandiri (off-grid) melalui pemberian Wilayah Usaha (Wilus).

​Langkah ini dinilai akan mempercepat pemanfaatan energi surya di kawasan seperti KEK Mandalika, yang dikenal memiliki tingkat radiasi matahari sangat tinggi dengan potensi pembangkit mencapai 100 MW.

Daerah juga diharapkan diberi keluwesan untuk memasarkan listrik hijau ini secara lebih fleksibel, baik ke konsumen langsung maupun pasar internasional.

​Gagasan besar ini disambut hangat oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena.

Melki menegaskan kesiapan NTT yang memiliki modal potensi EBT fantastis sebesar 396 GW, berkat paparan matahari yang tinggi dan musim kemarau yang panjang.

Pemprov NTT pun berjanji memberikan karpet merah bagi investor lewat kepastian tata ruang dan penyediaan lahan.

​Melalui kolaborasi segitiga Bali-NTB-NTT ini, Indonesia Timur kini bersiap menjelma menjadi episentrum baru pertumbuhan ekonomi hijau yang disegani di tingkat global. (V-02)